Serabi Gemoy: Cita Rasa Legend yang Tetap Eksis di Tengah Gempuran Takjil Modern

Purwokerto–Di tengah hiruk-pikuk bazar Ramadan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) yang dipenuhi jajanan kekinian, semerbak aroma khas santan dan bakaran tungku tanah liat menarik perhatian pengunjung. Adalah Serabi Gemoy, lapak milik Pak Iwang yang menyajikan kudapan tradisional dengan sentuhan unik.

Namanya memang terdengar kekinian, tetapi Pak Iwang mempertahankan cara memasak tradisional menggunakan gerabah asli Magelang. Menurutnya, visual memasak dengan gerabah adalah daya tarik tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh teflon modern. “Kalau pakai cetakan teflon itu kurang menarik. Ini kan di-display, orang lihat prosesnya di gerabah. Jadi lebih wah gitu lho,” ujar Pak Iwang saat ditemui di sela-sela melayani pembeli (15/3/2026).

Lapak Serabi Gemoy milik Pak Iwang. (Dok. Pribadi)

Nama Gemoy dipilih bukan tanpa alasan. Pak Iwang mengaku ingin menyesuaikan dengan tren zaman sekarang agar anak muda tetap melirik makanan tradisional. Selain rasa original, Serabi Gemoy juga menawarkan varian topping modern seperti cokelat, keju, pisang, hingga nangka.

Keberadaan Serabi Gemoy ini sudah berjalan sekitar 6-7 tahun. Tak hanya memangkal di bazar Ramadan, Pak Iwang adalah sosok pedagang yang keliling event. Jam terbangnya pun tinggi, mulai dari event wayangan, pasar kaget di Bumiayu, bahkan sampai ke Pemalang.

Di bulan Ramadan ini, Pak Iwang fokus berjualan di area UMP mulai pukul 15.30 WIB hingga habis. Jika ramai pembeli, dalam sehari ia bisa menghabiskan adonan berbahan dasar 3 kg tepung dengan omzet mencapai Rp500.000.

Kehadiran serabi ini disambut antusias oleh para pemburu takjil. Salah satu pembeli, Aca, menyebut bahwa serabi Pak Iwang memiliki tekstur yang padat dan mengenyangkan. Selain itu, harganya juga terjangkau, yakni Rp10.000 untuk 6 serabi. “Serabi ini menarik untuk dibeli karena selain murah juga menurutku rasanya enak dan ngenyangin. Pembuatannya juga masih ada sentuhan tradisional khas Magelang yang juga jadi daya tarik tersendiri,” ujar Aca.

Serabi Gemoy yang sudah matang. (Dok. Pribadi)

Bagi para pembeli, keberadaan jajanan jadul seperti serabi di tengah bazar modern sangatlah penting. Inovasi topping yang dilakukan Pak Iwang dianggap sebagai langkah cerdas agar makanan khas Indonesia tidak hilang ditelan zaman.Bagi Pak Iwang, berjualan serabi bukan sekadar mencari untung, tetapi juga misi melestarikan budaya. “Ini kan masakan legend, harus diperjuangkan. Seperti yang lain ada cheese cake atau apa, kita tetap pertahankan serabi untuk melestarikan budaya Indonesia,” pungkasnya dengan semangat.

Editor: Fariska Putri Rahayu

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *