(Foto: Dokumentasi Pribadi)
PURWOKERTO—Istilah “dagang sapi” atau “politik dagang sapi” sering muncul dalam pemberitaan setiap kali terjadi pembentukan atau perombakan kabinet. Praktik tawar-menawar kursi kabinet ini terjadi antara partai politik dan calon presiden yang dinyatakan menang, yaitu saat partai meminta jatah jabatan berdasarkan kontribusi mereka dalam memenangkan kandidat.
Apa Itu “Dagang Sapi”?
Dalam KBBI, “dagang sapi” didefinisikan sebagai permufakatan politik di antara partai untuk memenuhi keinginan masing-masing; perihal tawar-menawar dalam pembentukan kabinet parlementer di antara partai politik. Atau tawar-menawar antara beberapa partai politik dalam menyusun suatu kabinet koalisi.
Asal-Usul dari Tradisi Minangkabau
Istilah ini berakar dari tradisi unik masyarakat Minangkabau dalam berdagang sapi yang disebut “marosok”. Jual beli sapi di Minangkabau dilakukan secara rahasia dengan menggunakan bahasa isyarat antara penjual dan pembeli, biasanya tangan yang bersalaman selalu ditutupi benda lain seperti sarung, baju atau topi, dan setiap jari melambangkan nilai uang.
Istilah ini kemudian populer dalam dunia politik Indonesia terutama saat masa demokrasi parlementer (1950-1959), ketika partai-partai politik saling rebutan kursi kabinet. Kemiripan proses negosiasi politik yang tertutup dengan tradisi marosok yang rahasia membuat istilah ini diadopsi ke ranah politik.
Perspektif Linguistik Metafora Dagang Sapi
Dari sudut pandang linguistik, “dagang sapi” merupakan contoh metafora konseptual. Metafora membantu menyederhanakan konsep abstrak dan memberikan pemahaman konkret kepada pembaca tentang polemik yang terjadi. Menurut penelitian Mas Uliatul Hikmah dan Hermina Sutami (2025), metafora dalam wacana politik berfungsi memudahkan pemahaman masyarakat terhadap fenomena politik yang kompleks.
Dalam metafora “dagang sapi”, terjadi pemetaan antara ranah sumber (transaksi dagang sapi yang rahasia) ke ranah sasaran (negosiasi politik pembagian jabatan). Keduanya sama-sama melibatkan tawar-menawar tersembunyi, kerahasiaan, dan upaya mencari keuntungan maksimal bagi masing-masing pihak.
Dampak dan Fungsi dalam Praktik Politik
Politik dagang sapi cenderung merusak sendi-sendi kehidupan politik yang demokratis, menyuburkan praktik korupsi, dan dapat memperluas praktik kolusi karena berbagai proyek dan program pemerintah dijalankan bukan atas dasar kompetensi, melainkan kronisme.
Namun dari perspektif bahasa, metafora ini berfungsi sebagai alat kritik sosial yang efektif. Dengan menggunakan istilah “dagang sapi”, masyarakat dapat mengekspresikan ketidaksetujuan mereka terhadap praktik politik transaksional secara ringkas dan mudah dipahami.
Mengapa Istilah ini Tetap digunakan?
Istilah “dagang sapi” hingga kini masih digunakan karena relevansinya dalam menggambarkan realitas politik Indonesia yang masih sarat dengan negosiasi tertutup dan pembagian kekuasaan. Keberhasilan metafora ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin yang merefleksikan kritik masyarakat terhadap fenomena sosial-politik di sekitar mereka.
Editor: Ela Tristiyani
