Fenomena Campur Kode di Kampus: Kebiasaan yang Tak Disadari Mahasiswa

(Ilustrasi: Desain oleh penulis menggunakan elemen canva)

Fenomena campur kode antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa Banyumasan (ngapak) banyak ditemukan dalam percakapan mahasiswa di lingkungan kampus. Situasi ini terjadi ketika mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, namun tanpa sadar menyisipkan unsur bahasa daerah dalam ucapan mereka.

Dalam kajian sosiolinguistik, campur kode didefinisikan sebagai penyisipan unsur bahasa lain berupa kata, frasa, atau bentuk morfologis ke dalam bahasa yang sedang digunakan. Suandi (2014) menjelaskan bahwa campur kode umumnya muncul akibat kebiasaan berbahasa penutur dan konteks sosial yang memengaruhi kenyamanan mereka saat berkomunikasi.

Salah satu mahasiswa, Linta, asal Cilacap, mengaku sering tidak menyadari saat dirinya mencampurkan bahasa ngapak dalam percakapan sehari-hari. “Biasanya saya pakai bahasa Indonesia kalau ngobrol sama teman yang bukan orang Banyumas dan sekitarnya. Tapi kalau lagi menjelaskan sesuatu cepat-cepat, tiba-tiba keluar kata ngapak,” ujarnya pada Rabu (26/11).

Linta menjelaskan bahwa lingkungan kampus turut memperkuat kebiasaan tersebut. Banyak teman di lingkungannya menggunakan bahasa ngapak, sehingga ia makin terbiasa memadukan kedua bahasa dalam interaksi sehari-hari. Meski di kelas ia berusaha memakai bahasa Indonesia, campur kode tetap muncul secara spontan. “Sudah kebiasaan dari rumah, jadi kadang susah nahan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa logat “medok” terkadang membuatnya kurang percaya diri ketika berbicara menggunakan bahasa Indonesia penuh. Kondisi itu membuat beberapa kosakata ngapak muncul tanpa disengaja. “Contohnya saat mau ngomong ‘misalnya’, jadinya keluar ‘misale’. Atau ‘kayak gitu’ jadi ‘kek kue’,” ungkapnya.

Meski demikian, Linta menilai bahwa campur kode tersebut tidak mengganggu komunikasi di antara teman-temannya. “Teman-teman tetap paham maksudnya,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa daerah masih sangat melekat pada para mahasiswa, meskipun mereka banyak beraktivitas di lingkungan kampus yang biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Kebiasaan sejak kecil, teman-teman yang memakai dialek sama, serta rasa nyaman saat berbicara membuat campur kode muncul dengan sendirinya.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *