Gaya Bahasa Dry Text Gen Z Mengubah Pola Komunikasi di Media Sosial

Purwokerto – Gaya bahasa dry text yang banyak digunakan remaja di media sosial mulai menjadi sorotan publik. Dry text dikenal sebagai balasan singkat seperti “ok”, “ya”, atau “hm”, yang kerap dianggap kurang menunjukkan perhatian dalam percakapan daring.

Pembahasan mengenai dry text kembali mencuat setelah sejumlah unggahan di TikTok dan X memperlihatkan percakapan pendek yang dinilai dingin dan sulit dipahami maksudnya. Banyak pengguna mengaku bingung menafsirkan emosi lawan bicara ketika balasan yang diterima hanya berupa satu atau dua kata.

Perubahan gaya tutur ini muncul seiring meningkatnya komunikasi melalui aplikasi pesan instan. Balasan singkat dipilih karena dianggap lebih cepat dan praktis, terutama dalam percakapan yang berlangsung terus-menerus. Namun, penyederhanaan tersebut membuat pesan kehilangan nuansa, sehingga rawan menimbulkan salah paham.

Di media sosial, pendapat warganet mengenai penggunaan dry text terbagi dua. Sebagian menganggapnya sebagai gaya komunikasi yang efisien, sementara lainnya menilai bahwa balasan singkat terasa tidak sopan dalam beberapa situasi. Perbedaan pandangan ini sempat membuat tagar #DryTextCulture menjadi topik ramai diperbincangkan.

Pengamat bahasa mengingatkan pentingnya menjaga kesantunan saat berkomunikasi di ruang digital. Menurut mereka, penyesuaian gaya bahasa diperlukan agar pesan tetap jelas, terutama ketika berhubungan dengan orang yang mengharapkan respons lebih lengkap.

Gaya dry text diperkirakan masih akan digunakan oleh remaja karena sejalan dengan budaya komunikasi cepat di internet. Tren ini juga menunjukkan bahwa pola bahasa generasi muda terus berkembang mengikuti kebutuhan dan kebiasaan berinteraksi di era digital.

Editor: Khairunnisa Al Jauziyah

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *