Purwokerto – Mahasiswa di Purwokerto menyatakan keheranan dan keraguan terhadap kata “galgah”, kosakata baru yang resmi masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi VI daring pada akhir Oktober 2025 sebagai sinonim “palum” atau tidak dahaga setelah minum. Kata ini pertama kali dicetuskan secara jenaka oleh influencer TikTok Bunga Reyza pada Mei 2025, lalu viral di media sosial hingga divalidasi Badan Bahasa karena frekuensi penggunaannya yang tinggi. Badan Bahasa menjelaskan bahwa ‘galgah’ merupakan kata informal onomatope yang meniru bunyi helaan napas lega. Kata ini bukan lawan baku “haus” yang tetap “palum” dari bahasa Batak, meskipun keduanya bersifat sinonim.
Aldi, seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengaku baru mendengar ‘galgah’ hari itu dari teman, awalnya ia mengira mirip ‘galah’, dan merasa sulit diingat untuk penggunaan sehari-hari. Ia setuju penambahan kosakata ‘galgah’ sebagai perkembangan bahasa, tetapi ia merasa ragu memakainya karena khawatir lawan bicara belum mengerti, serta menilai penggunaan kosakata tersebut cocok untuk pelajar atau anak muda yang aktif di sosial media. Mahasiswa lain umumnya baru tahu kosakata ‘galgah’ baru-baru ini melalui media sosial. Meski begitu, mereka belum terbiasa menggunakannya dan menganggap kata ini lebih menyebar di kalangan Gen Z yang aktif secara digital.
Meskipun reaksi awal masyarakat cenderung heran, penambahan kata ini tetap diapresiasi sebagai bukti bahasa yang hidup berkat kreativitas digital. Bunga Reyza pun berterima kasih atas dukungan Gen Z. Namun, mahasiswa di Purwokerto masih skeptis terhadap adopsi luas di luar sosial media, karena mereka lebih memilih kosakata yang sudah familiar. Fenomena ini akhirnya menambah warna pada bahasa Indonesia modern.
Editor: Fitriana Oktavia
