
PURWOKERTO — Fenomena konten viral di media sosial semakin tak terhindarkan seiring meningkatnya aktivitas pengguna digital. Huang (2020) menyebut bahwa konten media sosial merupakan informasi dan hiburan yang disebarkan melalui platform jejaring sosial seperti YouTube, Instagram, dan Facebook, baik oleh individu maupun organisasi, serta memungkinkan interaksi langsung dengan pengguna.
Pendapat ini menunjukkan bahwa cepatnya arus informasi di media sosial membuat pengguna mudah terpapar berbagai jenis konten, termasuk yang viral.
Kondisi tersebut turut dirasakan oleh Yosar, seorang mahasiswa, yang mengaku sering melihat konten viral bukan karena mencarinya, melainkan karena algoritma media sosial otomatis menampilkannya. “Saya tidak selalu ingin mengikuti konten viral, tapi sering lewat sendiri di FYP,” ujarnya.
Meski memiliki preferensi pribadi seperti modifikasi motor, olahraga, dan Formula 1, Yosar menilai konten viral tetap mendominasi karena dirancang untuk menarik perhatian warganet. Ia mengatakan bahwa konten viral biasanya memperoleh respons besar dari audiens. “Konten viral itu biasanya lewat FYP karena bisa menarik perhatian audiens seperti saya,” tuturnya.
Namun, tidak semua konten yang muncul dapat dipercaya. Yosar mengaku selalu menganalisis apakah konten tersebut hoaks atau bermanfaat. Ia menilai masih rendahnya literasi digital masyarakat Indonesia membuat penyebaran informasi menyesatkan sulit terbendung. “Betul sekali, apalagi di Indonesia, netizennya masih minim literasi,” katanya.
Yosar juga mengakui pernah tertipu oleh konten hoaks yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak meyakinkan. “Terkadang konten hoaks itu dibuat seakan-akan benar,” ungkapnya.
Meski demikian, derasnya arus konten viral justru memberi inspirasi positif baginya. Ia mengaku terdorong membuat konten tentang hobinya di bidang modifikasi motor, yang menurutnya memiliki potensi menjadi peluang penghasilan. “Mungkin karena saya sering lihat, jadi ingin membuat konten hobi saya,” tambahnya.
Editor : Arlinta Ayu Putri Yunexsa
