Pria Solo Ada di Mana-mana? Fenomena “Solophobia” yang Bikin Netizen Halusinasi Massal

Purwokerto — Sejak beberapa minggu terakhir, netizen Indonesia di TikTok dan platform lain ramai membicarakan istilah “solophobia” dan versi satirnya, priasolophobia. Bukan fobia klinis, istilah ini justru muncul sebagai candaan atau sindiran terkait kecenderungan warganet yang mengaitkan hampir segala hal dengan mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), sering juga disebut “Pria Solo” karena latar asalnya dari Solo. Tren ini viral, menarik perhatian kaum muda, dan bahkan dipakai sebagai lelucon politik online.

Istilah “solophobia” berasal dari gabungan kata yang secara harfiah tampak seperti sebuah jenis fobia, tetapi warganet Indonesia justru memaknai istilah itu sebagai “ketakutan atau kecenderungan spontan untuk selalu melihat hal yang berbau Jokowi di mana-mana”. Dalam sejumlah unggahan viral, netizen bercanda bahwa mereka melihat wajah atau “jejak Jokowi” di objek apa pun, seperti pola di bakso urat, bentuk daun, atau detail wajah orang lain yang sekilas mirip, dan kemudian menyebut fenomena itu sebagai solophobia yang “menyerang” semua lini.

Fenomena ini bukan muncul dari doktrin psikologi formal, melainkan hasil crowdsourced humor di kalangan pengguna media sosial, khususnya generasi Z dan milenial. Menurut laporan Suara Merdeka Jogja, istilah ini telah bermutasi menjadi candaan satir berbau politik dan dipakai untuk mengomentari kecenderungan netizen yang sering mengaitkan isu, gambar, atau peristiwa apapun dengan figur Jokowi, bahkan ketika hubungan keduanya sangat longgar.

Beberapa analis budaya digital melihat tren seperti ini sebagai bagian dari dinamika komunikasi online yang semakin cepat dan tajam. Format media sosial seperti X dan TikTok membuat istilah baru mudah tersebar karena sifatnya yang ringkas, ironis, dan mudah dijadikan meme. Istilah seperti “solophobia” cepat viral karena memenuhi tiga elemen utama komunikasi media sosial: mudah diingat, lucu, dan bisa dipakai dalam berbagai konteks unggahan.

Meski di satu sisi fenomena ini tampak sebagai humor belaka, di sisi lain ia juga mencerminkan bagaimana tokoh publik tetap menjadi figur pusat perhatian bahkan setelah masa jabatan berakhir. Karakter Jokowi yang populer di media sosial menimbulkan respons yang beragam: mulai dari bentuk apresiasi hingga kritik tersirat, dan segala bentuk rekreasi makna dari gambar atau video yang beredar. Fenomena seperti ini juga menunjukkan cara netizen Indonesia mengolah humor sebagai bahasa ekspresi publik di ruang digital, sebuah bentuk literasi cultural remix yang khas di era media sosial.

Akhirnya, meskipun istilah seperti “solophobia” bukan bagian dari studi psikologi formal, keberadaannya menggarisbawahi bagaimana masyarakat modern menggunakan bahasa, tanda, dan lelucon sebagai cara untuk mengekspresikan persepsi politik dan sosial secara kreatif. Bagi banyak pengguna, fenomena ini menjadi bagian dari digital folklore kontemporer yang menggambarkan hiburan, eskpresi diri, dan kecenderungan kolektif untuk menautkan hampir semua hal kepada figur publik tertentu di Indonesia.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *