
Ilustrasi ancaman penipuan digital yang menyasar mahasiswa (Dokumentasi: Canva)
PURWOKERTO—Dalam beberapa minggu terakhir, pengamatan terhadap maraknya kasus penipuan digital menunjukkan bahwa mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling rentan. Salah satu contohnya dialami oleh Wulandari, mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang kerap menerima telepon asing dan pesan mencurigakan dari nomor tak dikenal. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa hoaks dan manipulasi digital tidak lagi hadir melalui berita sensasional saja, tetapi juga lewat komunikasi langsung yang sering kali terlihat meyakinkan.
Wulandari mengungkap bahwa panggilan tersebut biasanya diiringi nada mendesak, seolah-olah berasal dari lembaga resmi. Setelah ia telusuri, tidak ada satu pun yang memiliki kejelasan sumber. Nomor internasional, waktu pengiriman yang tidak wajar, serta pola bahasa yang seragam membuatnya semakin curiga. “Awalnya saya sempat panik, tetapi setelah melihat pola pesannya, saya sadar ini bukan gangguan biasa,” ujarnya. Dari pengamatan lebih luas, pola ini ternyata juga dialami oleh mahasiswa lain, meski banyak yang tidak menyadari potensi bahayanya.
Pengalaman tersebut mendorong Wulandari untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Ia mulai terbiasa menelusuri asal informasi, mengecek situs resmi, serta menghindari respons spontan terhadap pesan yang meminta data pribadi. Kebiasaan sederhana ini menunjukkan bahwa keterampilan verifikasi informasi menjadi pertahanan awal yang penting dalam menghadapi modus penipuan digital yang semakin kompleks.
Meski keterampilan teknis membantu, Wulandari menilai bahwa etika dalam membaca informasi juga memegang peran besar. Ia berpegang pada enam pertanyaan dasar—apa isi pesan, siapa pengirimnya, kapan dikirim, dari mana asalnya, mengapa pesan itu ditujukan kepadanya, dan bagaimana risikonya jika ditanggapi. Pendekatan ini jarang dipraktikkan oleh pengguna muda yang terbiasa menerima informasi dalam tempo cepat, padahal dapat menjadi filter efektif dalam menahan laju penyebaran hoaks.
Pengalaman Wulandari menjadi pengingat bahwa ancaman digital tidak selalu datang secara jelas, melainkan tersembunyi dalam pesan yang tampak sepele. Di tengah derasnya informasi palsu dan upaya penipuan yang semakin rapi, literasi digital harus dipandang sebagai kebutuhan utama. Kebiasaan memeriksa, mempertanyakan, dan tidak mudah percaya menjadi langkah penting agar ekosistem informasi tetap aman dan tidak mudah dimanipulasi.
Editor: Iin Insyiroh
