
Dokumen: Sumber Pribadi
Wangon – Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP PGRI 1 Wangon berlangsung berbeda. Alih-alih belajar di dalam kelas, puluhan siswa kelas VIII justru menyebar ke berbagai sudut sekolah untuk melakukan observasi lapangan pada salah satu pertemuan tatap muka dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka mencatat kondisi taman, ruang kelas, area kebersihan, hingga kantin sekolah sebagai bahan untuk menyusun teks laporan hasil observasi.
Guru Bahasa Indonesia, Afifah Diani Nurul, mengatakan bahwa kegiatan belajar di luar kelas ini dirancang agar siswa memiliki pengalaman mengamati objek secara langsung, bukan hanya membayangkan melalui gambar atau buku paket.
“Anak-anak sering bingung menulis laporan karena tidak punya gambaran nyata. Dengan turun langsung ke lapangan, mereka melihat sendiri objeknya, mencatat, lalu mengolahnya menjadi teks observasi yang lebih akurat,” jelasnya.
Dalam kegiatan ini, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok menerima objek yang berbeda, lalu mencatat fakta-fakta penting, seperti ciri fisik, fungsi, kondisi kebersihan, dan potensi masalah yang mereka temukan. Setelah observasi selesai, siswa kembali ke kelas untuk mengolah data menjadi teks laporan sesuai struktur: pernyataan umum, deskripsi bagian, dan penutup.
Salah satu siswa, Alya Rahma, mengaku lebih mudah menulis ketika melihat langsung objeknya.
“Biasanya kalau tugas laporan aku bingung harus mulai dari mana. Tapi setelah liat sendiri dan catat poinnya, aku jadi tahu apa yang harus ditulis. Rasanya juga lebih seru karena kami seperti reporter di lapangan,” ujarnya.
Kegiatan observasi lapangan seperti ini bukan hanya meningkatkan pemahaman siswa, tetapi juga terbukti efektif berdasarkan sejumlah penelitian. Sebuah studi pendidikan menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis lapangan mampu meningkatkan kemampuan menulis laporan dan memperkuat daya ingat siswa karena mereka berinteraksi langsung dengan objek. Model pembelajaran ini juga dianjurkan dalam “outdoor study” yang dipublikasikan oleh Kementerian Pendidikan karena dapat mendorong kreativitas, pengalaman langsung, dan motivasi belajar.
Menurut Afifah Diani Nurul, pembelajaran seperti ini tidak hanya melatih keterampilan menulis, tetapi juga membangun kepekaan siswa terhadap lingkungan sekolah.
“Saat mereka mengamati taman atau ruang kelas, mereka jadi sadar mana yang perlu dirawat, mana yang kurang bersih. Jadi bukan hanya belajar bahasa, tapi juga membangun kepedulian,” tambahnya.
Kegiatan diakhiri dengan presentasi kelompok. Setiap kelompok memaparkan laporan mereka, menjelaskan hasil temuan, serta memberikan rekomendasi sederhana, seperti perbaikan kebersihan, penataan tanaman, atau peningkatan fasilitas.
Melalui kegiatan ini, SMP PGRI 1 Wangon berharap siswa dapat memahami bahwa teks laporan observasi tidak hanya sekadar tugas akademik, tetapi juga keterampilan penting untuk menggambarkan fakta secara objektif dan sistematis. Pendekatan pembelajaran di luar kelas seperti ini pun dinilai akan terus diterapkan sebagai bagian dari inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih kontekstual dan menyenangkan.
Editor: Windi Srimulyati
