Cadel Bukan Kekurangan: Suara ‘R’ yang Hilang Justru Jadi Daya Tarik

Percakapan dua remaja yang menunjukkan bahwa cadel ‘R’ kini dilihat sebagai ciri khas, bukan kekurangan (Sumber: Dokumentasi Pribadi).

Purwokerto Cadel huruf “R” kini dipandang sebagai keunikan, bukan kelemahan. Meski selama ini dianggap sebagai kekurangan dalam kemampuan berbicara, banyak orang mulai menunjukkan bahwa suara “R” yang tidak bergetar justru dapat menjadi ciri khas yang membuat seseorang mudah dikenali. Menurut Soeparno (2002), ahli fonologi bahasa Indonesia, rhotacism atau cadel huruf “R” terjadi ketika ujung lidah gagal mencapai titik artikulasi di langit-langit mulut sehingga bunyi getarnya tidak muncul. Kondisi ini umum terjadi dan tidak berkaitan dengan kecerdasan maupun kemampuan komunikasi.

Fenomena ini makin terlihat di media sosial, terutama TikTok, tempat sejumlah kreator cadel mendapat perhatian publik berkat gaya bicara yang unik. Salah satu yang dikenal luas adalah Denise Chariesta. Dalam salah satu videonya ia mengatakan, “Kalau cadel tuh lucu, unik, dan beda dari yang lain.” Denise bahkan pernah menjadi objek penelitian terkait pola pelafalan fonem /r/ dan /l/ yang menjadi ciri khasnya.

Selain Denise, kreator edukasi seperti Ayman Alatas dan Farhan Firmansyah juga mendapat banyak dukungan karena tampil percaya diri dengan pelafalan “R” yang tidak sempurna. Warganet menilai cara bicaranya terdengar lucu dan mudah diingat. Kehadiran kreator-kreator ini memperkuat pandangan bahwa cadel bukanlah kekurangan, melainkan karakter unik yang bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Walaupun demikian, sebagian orang tetap memilih menjalani terapi wicara untuk memperbaiki pelafalan. Panduan American Speech-Language-Hearing Association (ASHA, 2021) menjelaskan bahwa latihan artikulasi rutin dapat membantu meningkatkan kontrol motorik pada anak, namun terapi tetap bersifat pilihan. ASHA menegaskan bahwa cadel tidak membahayakan dan tidak menghambat komunikasi sehari-hari.

Para ahli bahasa dan terapis wicara juga menegaskan bahwa cadel bukan indikator kurang pintar atau kurang terampil berbicara. Justru tekanan sosial dan ejekan lingkungan jauh lebih merugikan. Pemahaman dan dukungan masyarakat sangat penting agar individu cadel dapat berbicara tanpa rasa takut atau rendah diri.

Pada akhirnya, cadel huruf “R” adalah persoalan perspektif. Ada yang memilih memperbaikinya, tetapi banyak pula yang menjadikannya sebagai bagian dari jati diri. Di tengah tren yang semakin menghargai keaslian, suara “R” yang hilang dapat menjadi kekuatan, bukan kelemahan. Cadel bukan akhir dari kepercayaan diri justru menjadi awal dari keunikan yang disukai banyak orang.

Editor: Tsania Kasyifa Rizqi

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *