Drama “Bayang di Balik Singgasana” Angkat Konflik Kasta dan Kemanusiaan

Dokumentasi Pribadi

Purwokerto—Kelompok Teater Jagat Rasa Kelas C mementaskan karya berjudul Bayang di Balik Singgasana di Aula Bambang Lelono, Fakultas Ilmu Budaya, Jumat (12/12). Pementasan ini merupakan adaptasi dari naskah Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya, yang dikenal kuat mengangkat konflik psikologis serta kritik terhadap struktur sosial.

Drama ini menyoroti pertentangan antara tradisi feodal kasta di Bali dan nilai-nilai kemanusiaan modern. Kisahnya mengungkap hubungan terlarang antara bangsawan dan pembantu yang dibayangi rahasia keluarga, hingga kebenaran tentang asal-usul dan status sosial para tokohnya terkuak. Konflik tersebut memperlihatkan benturan antara tatanan lama yang kaku dan tuntutan keadilan serta kebebasan individu.

Pementasan dikemas secara intens dengan dialog dan ekspresi yang kuat, sehingga penonton larut dalam alur cerita. Unsur kejutan dalam pengungkapan fakta menjadi titik balik dramatik yang mempertegas kritik sosial terhadap sistem kasta dan keangkuhan status sosial.

Salah satu penonton, Tsabita, mengungkapkan kesannya terhadap pertunjukan tersebut. “Dramanya bagus karena gong ceritanya kuat. Terungkap fakta bahwa anak bangsawan yang selama ini dibanggakan ternyata berasal dari kaum sudra. Bagian itu paling mengena,” ujarnya.

Melalui pementasan ini, Teater Jagat Rasa tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menghadirkan refleksi kritis tentang relevansi struktur sosial lama di tengah perubahan zaman. Drama ini mengajak penonton untuk memaknai kembali nilai kemanusiaan, kejujuran, dan kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Editor: Indri Kumala

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *