
Banyumas — Fenomena Javanglish menarik perhatian pengguna media sosial setelah Tiktoker Aisyah Nanda mengunggah video pada 22 Juli 2025 yang menampilkan pelafalan bahasa Jawa dengan aksen menyerupai bahasa Inggris. Dalam videonya, Aisyah menunjukkan beberapa perubahan bunyi, seperti iso menjadi “itshow”, sepurane menjadi “thsepuraney”, ya opo seh? menjadi “ya’ophoh sey”, serta monggo pinarak yang diucapkan sebagai “mhongkhow phinarhaq”.
Berdasarkan penelitian mengenai variasi fonologi bahasa gaul di media sosial, perubahan bunyi sering muncul karena kreativitas penutur dalam menyesuaikan bahasa dengan gaya komunikasi digital. Riset lain tentang campur kode dalam tuturan remaja di platform daring juga menunjukkan bahwa modifikasi lafal, penambahan bunyi, dan pencampuran unsur bahasa lain dilakukan untuk menciptakan kesan unik atau berbeda. Pola tersebut tampak jelas pada bentuk-bentuk Javanglish yang digunakan Aisyah.
Meluasnya penggunaan Javanglish memperlihatkan bagaimana perubahan fonologi dapat terbentuk melalui proses peniruan di media sosial. Banyak pengguna TikTok mulai menirukan gaya pelafalan Aisyah, baik melalui komentar maupun unggahan serupa. Pergeseran bunyi ini menunjukkan bahwa variasi bahasa dapat berkembang dengan cepat ketika mendapat perhatian luas dari komunitas pengguna.
Fenomena Javanglish menandai munculnya bentuk bunyi baru dalam penggunaan bahasa Jawa di ruang digital. Perpaduan kosakata Jawa dengan pelafalan ala bahasa Inggris menciptakan varian fonologis yang berbeda dari tuturan aslinya. Situasi ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi salah satu ruang yang turut memengaruhi perkembangan serta adaptasi bahasa daerah dalam tren komunikasi modern.
Editor: Lestiani Reza Anjarfari
