
(Sumber: dokumentasi pribadi)
Purwokerto — Festival Sastra Nusantara 2025 resmi dibuka di Taman Mas Kemambang, Purwokerto, Sabtu (22/11). Acara yang berlangsung selama tiga hari ini menghadirkan lebih dari 300 sastrawan, budayawan, akademisi, dan komunitas literasi dari berbagai daerah di Indonesia. Mengusung tema “Merangkai Kata, Menyatukan Budaya”, festival ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi untuk merayakan kekayaan sastra sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa.
Sejak pagi, pengunjung memenuhi area festival untuk menyaksikan pembacaan puisi, diskusi panel, hingga pertunjukan seni tradisi. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah “Puisi dari Timur”, di mana sastrawan muda dari Papua dan Maluku membacakan karya bertema persatuan dan keberagaman. Di sisi lain, pameran manuskrip kuno dari Jawa dan Sumatra turut mencuri perhatian, memperlihatkan jejak panjang tradisi literasi Nusantara.
Festival ini tidak hanya menampilkan karya sastra, tetapi juga menghubungkan masyarakat dengan akar budaya. Pertunjukan teater rakyat, musik tradisional, dan tari daerah digelar setiap malam, menciptakan suasana meriah sekaligus penuh makna. “Sastra bukan sekadar kata, tetapi jembatan yang menyatukan kita,” ujar Ketua Panitia, Haikal, dalam sambutannya.
Selain pertunjukan, festival juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif. Workshop menulis kreatif diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa, sementara lomba membaca puisi menarik peserta dari berbagai kota. Diskusi panel menghadirkan tokoh sastra, komunitas literasi digital, dan penulis muda yang membahas tantangan perkembangan sastra di era teknologi.
Festival Sastra Nusantara 2025 diharapkan menjadi momentum kebangkitan literasi di Indonesia. Dengan kolaborasi lintas generasi, acara ini menunjukkan bahwa sastra tetap relevan di tengah derasnya arus digitalisasi. Lebih dari sekadar perayaan kata, festival ini menjadi simbol persatuan bangsa melalui budaya yang terus hidup dan berkembang.
Editor: Claresta Zalfa Kaulika
