(Sumber: Dokumen Pribadi)
Purwokerto—Proses pembelajaran menghadapi tantangan serius seiring dengan perkembangan teknologi visual. Para pendidik menyoroti bahwa kebiasaan membaca di kalangan pelajar semakin menurun, digantikan oleh konsumsi video-video pendek dan konten visual cepat lainnya. Pergeseran kebiasaan ini menimbulkan kekhawatiran mendalam terhadap fondasi literasi generasi muda.
Penurunan minat pelajar terhadap buku dan bacaan panjang ini berakar pada fakta bahwa teknologi telah mengubah preferensi pelajar. Mereka lebih menyukai konten yang cepat dan instan daripada membaca teks yang menuntut fokus panjang.
“Teknologi yang semakin berkembang membuat kebiasaannya juga banyak yang hilang termasuk membaca. Sekarang mereka malah lebih suka menonton video-video pendek,” ujar seorang pengamat yang memiliki latar belakang kuat di lingkungan pendidikan. Ia menambahkan bahwa rendahnya minat ini terlihat jelas di lingkungan belajar. “Itu yang menurut saya kurang,” tambahnya.
Krisis minat ini berpotensi serius memengaruhi pemahaman pelajar terhadap materi. Kurangnya paparan terhadap teks yang kaya menghambat pengembangan kosakata dan kemampuan analisis yang kritis, meskipun pelajar mungkin mampu memahami dasar-dasar bahasa.
Fenomena ini terlihat jelas di lingkungan sekolah, khususnya dalam kelas-kelas pembelajaran bahasa saat materi bacaan sering diabaikan. Hal ini terjadi di era digital sekarang, ketika gawai telah menjadi alat utama bagi pelajar untuk mengakses informasi.
Oleh karena itu, pelaku pendidikan dituntut untuk segera merumuskan strategi inovatif. Upaya saat ini difokuskan pada merancang ulang metode pembelajaran, mencari cara untuk menjembatani jurang antara daya tarik visual dan kebutuhan akan literasi yang mendalam agar pelajar kembali melihat membaca sebagai kebutuhan, bukan sekadar beban yang harus diselesaikan.
Editor: Nada Naila Salsabila
