Inovasi Bahasa Digital: Slang Gen Alpha

Purwokerto – Bahasa slang generasi Alpha di Indonesia merupakan bahasa gaul yang berkembang pesat dan unik, dipengaruhi oleh budaya digital dan media sosial seperti TikTok, X, dan YouTube. Bahasa ini ditandai dengan pemendekan kata, istilah baru dari meme dan tren internet seperti skibidi, sigma, sus, dan sebagainya yang memiliki makna berbeda dari bahasa baku.

Pengguna utama bahasa slang ini adalah anak-anak yang lahir dari tahun 2010 hingga 2024, yang dikenal sebagai Generasi Alpha. Para pelajar sekolah dasar dan remaja termasuk dalam kelompok ini. Fenomena ini berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan pesatnya penggunaan media sosial dan teknologi digital di kalangan anak muda.

Bahasa slang Gen Alpha ini digunakan secara luas di Indonesia, terutama di lingkungan pergaulan anak-anak dan remaja yang aktif di media sosial dan platform digital. Bahasa slang ini muncul sebagai bentuk ekspresi diri dan identitas sosial di era digital. Namun, penggunaannya yang cepat berubah dan sering ambigu menimbulkan kesenjangan komunikasi antara generasi Alpha dengan generasi sebelumnya, serta menimbulkan tantangan dalam penguasaan bahasa Indonesia baku.

Penggunaan bahasa slang Gen Alpha mempengaruhi dinamika komunikasi sehari-hari, di mana kata-kata sering mengalami pergeseran makna dari positif menjadi negatif atau ambigu. Sementara bahasa slang dapat mendorong kreativitas berbahasa, penggunaannya yang tidak terkendali dapat mengurangi kemampuan berbahasa formal dan membuat komunikasi lintas generasi menjadi kurang efektif.

Secara pragmatik, slang Gen Alpha berfungsi sebagai kode yang mengikat komunitas mereka. Namun, fenomena ini juga menghadirkan tantangan. Kekhawatiran tentang potensi penurunan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama jika slang digunakan tanpa batasan konteks.
Penting untuk menyesuaikan kepada siapa dan kapan kita berbicaran dan perlu ditegaskan bahwa slang harus dipahami sebagai variasi bahasa yang sah dalam ranah informal digital, bukan sebagai pengganti bahasa baku.

Redaktur : Indriani Nurul Istiqomah

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *