Fenomena Penggunaan Kata“Rizz” di Era Generasi Z

(Sumber: dokumentasi pribadi)

Purwokerto –Fenomena penggunaan kata “rizz” semakin menonjol di kalangan generasi Z dan mendominasi interaksi mereka di ruang digital. Istilah ini hadir dalam percakapan santai hingga konten hiburan, digunakan sebagai simbol karisma yang menunjukkan daya tarik seseorang ketika berkomunikasi di platform seperti TikTok, Instagram, hingga Discord. Bagi generasi muda, rizz bukan sekadar kata gaul, tetapi bagian dari identitas sosial yang memperlihatkan bagaimana mereka mengekspresikan gaya komunikasi modern yang serba cepat dan visual.

Secara linguistik, rizz berangkat dari kata “charisma” yang kemudian mengalami pemendekan bentuk agar lebih ringkas dan mudah digunakan dalam komunikasi digital. Pola pemendekan ini sejalan dengan temuan Batubara (2021) dalam Kode: Jurnal Bahasa, yang menegaskan bahwa pengguna bahasa di era teknologi cenderung menciptakan bentuk-bentuk singkat demi efisiensi interaksi. Dalam konteks ini, kemunculan rizz menjadi bukti bagaimana bahasa gaul berkembang melalui kreativitas pengguna muda yang memanfaatkan viralitas sebagai medium penyebaran kosakata baru.

Penggunaan kata ini tampak jelas dalam cara generasi Z menilai kemampuan interpersonal seseorang. Ungkapan seperti “high rizz”, “low rizz”, atau bahkan “unspoken rizz” menjadi ukuran untuk melihat bagaimana seseorang membawa diri, bercanda, atau membangun kesan pertama. Melalui sudut pandang mereka, rizz bukan hanya istilah gaul, tetapi alat untuk membaca keterampilan sosial: rasa percaya diri, humor, kemampuan berbicara, hingga bagaimana seseorang membuat orang lain nyaman. Dengan kata lain, bahasa menjadi instrumen untuk menggambarkan kompetensi interpersonal secara kreatif.

Fenomena ini juga memperlihatkan adanya norma baru dalam penggunaan bahasa di ruang digital. Rizz muncul sebagai istilah yang digunakan oleh generasi Z terutama di media sosial pada masa sekarang karena bahasa yang ringkas dianggap paling sesuai dengan ritme komunikasi online. Penggunaannya dilakukan dengan memperhatikan konteks sosial: siapa yang diajak bicara, hubungan antarpenutur, serta tujuan interaksi. Karena itu, meskipun rizz sering dipakai untuk bercanda atau memuji, pengguna tetap menjaga etika agar tidak merendahkan atau menyinggung. Hal ini selaras dengan pandangan dalam penelitian Batubara (2021) bahwa komunikasi digital menuntut kesadaran pragmatik agar penggunaan bahasa tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Editor: Linda Rahma Agnia

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *