Purwokerto — Aula Bambang Lelono Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman tampak berbeda pada Kamis malam, 11 Desember 2025. Pagelaran teater Jagat Rasa menampilkan lakon Orang-Orang di Tikungan Jalan, adaptasi karya W.S. Rendra, yang mengajak penonton menyelami realitas kehidupan masyarakat kecil melalui bahasa panggung yang sederhana namun penuh makna.

Sejak awal pementasan, tata panggung menghadirkan suasana jalanan yang akrab dengan keterbatasan. Lapak wedang kacang, poster-poster usang, serta lampu jalan yang redup menjadi latar yang menggambarkan ruang hidup kaum pinggiran. Kesederhanaan visual ini justru menguatkan pesan sosial yang hendak disampaikan kepada penonton.
Cerita bergerak dari sosok anak yang kerap menangis dan berteriak di pinggir jalan. Ia dianggap tidak waras oleh lingkungan sekitarnya. Namun perlahan, pementasan membuka luka batin yang tersembunyi, berakar dari hubungan keluarga yang rapuh dan trauma masa lalu. Adegan ini menegaskan bahwa perilaku yang dianggap menyimpang sering kali lahir dari penderitaan yang tak terlihat.
Konflik berlanjut pada relasi antarmanusia yang dibangun di atas standar moral yang timpang. Seorang tokoh laki-laki digambarkan memegang prinsip moral secara kaku dan cenderung menghakimi. Ia menuntut kesempurnaan dari pasangannya, tanpa pernah merefleksikan sikap dan kesalahannya sendiri. Moralitas dalam lakon ini tampil sebagai alat penilaian, bukan pemahaman.

Perubahan sikap tokoh laki-laki ditunjukkan tanpa dialog panjang, melainkan melalui gestur dan kedekatan jarak di atas panggung. Sementara itu, tokoh perempuan hadir sebagai gambaran individu yang tertekan oleh stigma sosial hingga kehilangan kepercayaan diri. Momen kebersamaan mereka bukanlah akhir bahagia, melainkan simbol upaya bertahan di tengah luka yang membentuk kehidupan.
Melalui lakon ini, Jagat Rasa tidak menawarkan penyelesaian manis atas persoalan yang dihadirkan. Para tokoh tetap berada di tikungan jalan yang sama ketika lampu panggung meredup. Pementasan ini meninggalkan kesadaran bahwa persoalan moral, kemiskinan, dan luka batin sering kali tidak memiliki jalan keluar yang sederhana, namun tetap layak untuk disuarakan.
Editor: Miftakhul Sholehah
