Janur Ireng, Prekuel yang Memperdalam Teror Santet Sewu Dino

Sumber Dokumentasi: Akun Instagram @mdpictures_official

Purwokerto — Industri film horor Indonesia kembali menghadirkan kisah mencekam lewat Janur Ireng, film yang menjadi prekuel dari Sewu Dino. Diadaptasi dari semesta cerita karya SimpleMan, Sewu Dino berfokus pada perjuangan melawan kutukan selama seribu hari, sedangkan film ini justru mengajak penonton menelusuri akar mula teror tersebut.

Film ini berfokus pada konflik 7 keluarga terpandang di Jawa yang dikenal dengan Trah Pitu Lakon. Dalam Janur Ireng cerita berpusat pada beberapa keluarga terpandang di Jawa, keluarga Kuncoro dan Atmojo yang merupakan saudara terjebak dalam pusaran ambisi, kecemburuan, serta perebutan kekuasaan sehingga dari konflik inilah muncul keputusan-keputusan kelam yang membuka jalan bagi praktik ilmu hitam dan melahirkan malapetaka berkepanjangan.

Secara naratif, film ini tidak sekadar mengandalkan jumpscare, melainkan membangun horor lewat cerita yang perlahan namun pasti. Penonton diajak memahami bagaimana relasi kuasa dalam keluarga bangsawan Jawa memicu tragedi panjang. Film ini memperluas latar dan mitologi yang sebelumnya hanya disinggung dalam Sewu Dino. Janur, yang dalam budaya Jawa identik dengan simbol kebahagiaan, diputarbalikkan menjadi pertanda petaka. Pendekatan ini membuat horor terasa lebih psikologis. Teror tidak selalu hadir dalam wujud visual yang eksplisit, tetapi melalui atmosfer mencekam, dialog penuh ketegangan, serta penggunaan tata cahaya yang gelap dan minimalis.

Hari (20), mengaku puas dengan penyajian cerita yang lebih detail. “Menurut saya, Janur Ireng itu kuat banget di atmosfernya. Rasanya lebih gelap dan serius. Kita jadi tahu asal-usul konflik di Sewu Dino. Jadi bukan cuma serem, tapi juga nambah pemahaman soal santet yang terdapat dalam Sewu Dino” ujarnya.

Hari juga menilai penggarapan setting dan musik latar menjadi kekuatan utama film ini. “Sound effect-nya bikin tegang terus. Bahkan di beberapa adegan yang tenang pun rasanya tetap bikin atmosfer yang nggak nyaman, itu keren sih,” tambahnya.

Meski demikian, tempo yang lambat menjadi catatan tersendiri. Bagi penonton yang mengharapkan intensitas seperti dalam Sewu Dino, film ini mungkin terasa kurang memberikan ledakan teror. Minimnya adegan kejut membuat ketegangan lebih bersifat psikologis. Hal ini sejalan dengan tanggapan dari penonton lainnya, yaitu Yasmin (19). “Kalau dibandingkan Sewu Dino, film ini kurang serem. Alurnya agak lambat di awal dan nggak terlalu banyak adegan yang melibatkan hantu seperti film horor lainnya. Jadi rasanya lebih ke drama keluarga daripada horor murni,” katanya.

Sebagai prekuel, Janur Ireng berhasil memperluas dunia Sewu Dino dengan pendekatan yang lebih mendalam dan atmosfer yang kuat. Film ini cocok bagi penonton yang menyukai horor sadis dengan pembangunan cerita bertahap dan kaya unsur budaya. Namun, bagi yang mengharapkan kesan horor tanpa darah, film ini kurang cocok.

Secara keseluruhan, Janur Ireng menjadi pelengkap penting dalam semesta cerita yang telah dibangun sebelumnya, sekaligus mempertegas bahwa horor lokal dengan akar budaya masih memiliki daya tarik kuat di industri perfilman Indonesia.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *