
Sumber: dokumentasi pribadi
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) digital kini tidak hanya menjadi rujukan utama, melainkan telah menggeser cara lama dalam mempelajari bahasa. Pergeseran ini terlihat dari tingginya jumlah pengguna kamus resmi Bahasa Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, selama beberapa tahun terakhir pencarian kata pada kamus ini mencapai 100.000 per hari.
Tidak hanya dari sisi pengguna, perkembangan KBBI digital juga terlihat dari sisi konten yang tiap edisinya mengalami perkembangan signifikan. Seperti Edisi VI yang telah memuat sebanyak 120.000 entri dan pada tahun 2024, Badan Bahasa menargetkan program penambahan sebanyak 80.000 entri baru, sehingga totalnya mencapai 200.000 lema. Program pengayaan kosakata ini dilakukan untuk mendukung kebutuhan pembelajaran bahasa yang dinamis dan mengikuti perkembangan zaman.
Lalu, apa yang membuat KBBI digital bisa menggeser kamus cetak?
Jawabannya terletak pada kemudahan dan kecepatan aksesnya. Pengguna khususnya mahasiswa cukup mengetikkan kata yang ingin dicari melalui gawai tanpa perlu membuka kamus tebal. Akibatnya, proses memahami kata, makna, dan bentuk turunan menjadi lebih praktis.
Salah satu bukti nyata pergeseran ini diungkapkan oleh Resmadini, seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa. Ia mengakui bahwa KBBI digital membantunya dalam mengecek ketepatan penggunaan kata, terutama dalam penulisan akademik. “Waktu mengerjakan tugas, biasanya saya sambil membuka KBBI digital untuk memastikan kata yang saya gunakan sudah tepat,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa KBBI telah memenuhi kebutuhan pembelajaran Bahasa Indonesia yang menekankan ketepatan makna.
Kedepannya, dengan jangkauannya yang semakin luas dan tingginya angka pencarian, penggunaan KBBI digital diperkirakan akan terus meningkat. Bisa dikatakan, KBBI telah bertransformasi dari sekadar referensi pencarian makna kata, menjadi sarana pembelajaran bahasa yang modern, akurat, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan.
Editor: Lintang Nasywa Salsabila
