Purwokerto—Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dirancang untuk memperkuat karakter serta kompetensi abad ke-21 di sekolah menengah atas kembali memunculkan diskusi mengenai efektivitasnya. Program ini ditujukan sebagai ruang eksplorasi dan pembelajaran kontekstual, tetapi implementasi di lapangan masih menimbulkan berbagai persoalan teknis. Audi, siswi kelas 12, menjadi salah satu peserta yang merasakan langsung kompleksitas tersebut. Ia menyampaikan bahwa pelaksanaan P5 kerap menjadi beban tambahan bagi dirinya dan beberapa anggota sekelompoknya.
“Aktivitas dalam P5 terasa cukup melelahkan karena harus mengeluarkan banyak biaya dan tidak semua anggota kelompok berkontribusi. Sistemnya disebut kerja kelompok, tetapi beban justru menumpuk pada satu orang. Meskipun begitu, saya tetap lebih setuju P5 dibandingkan Ujian Nasional (UN). Dampak positifnya, jadwal pelajaran menjadi lebih longgar dan tekanan materi berkurang,” ungkap Audi
Pengalaman Audi menunjukkan fenomena yang kerap muncul dalam pembelajaran berbasis proyek, yakni ketidakmerataan distribusi tugas, lemahnya koordinasi antar-anggota, dan terbatasnya waktu pendampingan. Situasi tersebut dapat terjadi ketika proyek dilaksanakan dalam durasi yang singkat atau ketika kesiapan siswa dan fasilitator belum sepenuhnya terbentuk.
Pengalaman Audi turut menegaskan sisi positif P5 yang menjadi alasan utama program ini tetap mendapat apresiasi. Waktu belajar yang lebih fleksibel, peluang untuk berkreasi, dan berkurangnya tekanan akademik konvensional memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan aspek nonkognitif yang tidak selalu terfasilitasi dalam pembelajaran materi.
Sejumlah penelitian pendidikan menunjukkan bahwa keberhasilan P5 sangat bergantung pada struktur pelaksanaan yang jelas, komunikasi antaranggota yang efektif, serta pendampingan konsisten dari guru. Ketiga aspek tersebut menjadi penentu agar tujuan P5 dalam membangun karakter kolaboratif tidak terganggu oleh dinamika kelompok yang kurang sehat.
Kasus Audi memperlihatkan bahwa idealisme P5 bersifat menjanjikan, tetapi penerapannya masih memerlukan penguatan. Evaluasi dan penyesuaian berkelanjutan sangat diperlukan agar kegiatan proyek mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna, bukan sekadar rutinitas yang membebani.
Editor: Rimanda Sahya Citharesmi
