
(Sumber: dokumen pribadi)
Purwokerto- Lampu ruangan perlahan meredup. Obrolan penonton yang semula ramai mendadak terhenti, menandai dimulainya sebuah pertunjukan drama di panggung kecil itu.
Cerita dibuka dengan suasana pagi di sebuah pabrik tahu. Seorang penjaga masih setengah tertidur ketika rekannya mencoba membangunkannya dengan candaan. Suasana langsung mencair saat teriakan singkat membuat sang penjaga terperanjat. Tawa penonton pun pecah. Dialog yang disajikan terasa akrab dan alami, seperti potongan percakapan para buruh di pagi hari.
Kehangatan berlanjut ketika aktor bernama Timi muncul. Logat Ngapaknya terdengar kental dan luwes. Ia berbicara santai tanpa kesan dibuat-buat. Penonton tertawa bukan karena lelucon yang berlebihan, melainkan karena cara ia membawakan peran terasa begitu hidup. Bersama rekannya, Timi singgah di warung pecel milik Mbok.
Di warung kecil itulah cerita mulai berubah arah. Seorang anak muda muncul setelah selesai makan dan mengaku lupa membawa dompet. Aktor yahg kerap di sapa si Mbok yang semula ramah mulai diliputi rasa ragu. Kecurigaan semakin menguat ketika para pekerja pabrik datang dan menyebut bahwa pemuda tersebut pernah mencuri. Sebagai jaminan, bajunya diminta. Suasana mendadak tegang, meski tetap diselingi tawa dari cara si pemuda menolak dengan canggung.
Tak lama kemudian, pemuda itu kembali. Wajahnya tampak letih. Dengan suara pelan, ia bercerita tentang hidup merantau dan hari-hari yang harus dijalani dengan menahan lapar. Mbok mendengarkan dengan hati terbuka. Rasa iba perlahan mengalahkan kecurigaan. Sampai akhirnya, si Mbok mengambil baju pemuda itu untuk dikembalikan.
Namun, ketenangan tersebut tak bertahan lama. Penjaga pabrik datang membawa kabar bahwa pemuda itu adalah pencuri yang sedang dicari warga pasar. Wajah Mbok berubah seketika. Penonton terdiam, menyaksikan penyesalan yang datang terlambat.
Dengan akting yang natural, dialog yang mengalir, serta musik latar yang pas, drama ini menghadirkan kisah sederhana tentang kepercayaan dan risikonya. Cerita disampaikan tanpa menggurui, namun cukup kuat untuk membuat penonton tersenyum, tertawa, lalu merenung dalam sunyi.
Editor: Natasya Amirah Putri
