Purbalingga, sebuah kota di Jawa Tengah, kini dikenal luas sebagai “Kota Knalpot”. Julukan ini tidak datang begitu saja, melainkan melalui sejarah panjang dan inovasi yang dimulai sejak tahun 1970 oleh Hasan Yusuf. Awalnya, Yusuf adalah seorang perajin alat masak seperti wajan, periuk, dan dandang, serta gamelan dari bahan kuningan. Namun, pada tahun 1970, ia memutuskan untuk beralih menjadi perajin knalpot.
Dengan peralatan sederhana dan metode manual, Hasan Yusuf mulai membuat knalpot. Karya-karyanya mendapatkan perhatian dan apresiasi, sehingga dari tahun ke tahun, semakin banyak perajin di Purbalingga yang mengikuti jejaknya. Hingga akhirnya, kota ini pun dikenal sebagai pusat industri knalpot.
Pada tahun 2005, untuk merayakan sejarah dan keunikan kota ini, pemerintah Purbalingga membangun sebuah patung yang menggambarkan seorang perajin sedang memahat knalpot. Patung ini menjadi ikon yang menegaskan identitas Purbalingga sebagai Kota Knalpot.
Kualitas knalpot buatan Purbalingga tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di dunia internasional. Perusahaan mobil ternama seperti Mercedes-Benz, Suzuki, dan Daihatsu menggunakan knalpot produksi Purbalingga untuk kendaraan mereka. Bahkan, PT Pindad, perusahaan kendaraan milik TNI AD, memanfaatkan knalpot Purbalingga untuk tank dan panser yang diekspor ke Malaysia dan Lebanon.
Salah satu perajin inspiratif di Purbalingga menceritakan perjalanannya dari nol hingga berhasil mempekerjakan empat karyawan dalam dua tahun. Meskipun demikian, industri ini juga menghadapi tantangan. Permintaan pasar yang tidak menentu memengaruhi stabilitas penghasilan, dan banyak kepala keluarga di Purbalingga yang menggantungkan hidupnya pada usaha knalpot ini.
Untuk mengetahui lebih lengkap dan detail mengenai sejarah dan perkembangan industri knalpot di Purbalingga, saksikan video dokumenter kami di YouTube.