Kuliah Pagi saat Ramadan: Ngantuk Iya, Semangat Juga Iya

Purwokerto — Bulan Ramadan selalu membawa perubahan ritme dalam keseharian mahasiswa. Suasana kampus di bulan Ramadan terasa sedikit berbeda. Pagi hari terasa lebih tenang, langkah mahasiswa tidak seramai biasanya, dan kantin yang tampak lengang. Perkuliahan pagi selama bulan Ramadan tetap berlangsung sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Di sejumlah program studi di Universitas Jenderal Soedirman, kelas pagi dimulai pukul 07.30 WIB. Di tengah rasa kantuk yang tak terhindarkan, semangat mahasiswa untuk hadir dan mengikuti perkuliahan tetap menyala.

Sejak pukul 07.00 pagi, sudah banyak mahasiswa yang mulai berdatangan ke ruang kelas. Sebagian besar mengaku harus menyesuaikan pola tidur karena bangun lebih awal untuk sahur. Waktu istirahat yang lebih singkat membuat rasa kantuk kerap muncul, terutama pada jam pertama perkuliahan. Namun demikian, aktivitas akademik tetap berjalan normal. Dosen menyampaikan materi, sementara mahasiswa mengikuti perkuliahan seperti biasa.

Beberapa mahasiswa menilai kelas pukul 07.30 masih terbilang kondusif karena udara pagi yang relatif sejuk dan suasana kampus belum terlalu ramai. Kondisi tersebut dapat membantu menjaga fokus mahasiswa dalam perkuliahan, meskipun energi tubuh belum sepenuhnya stabil. “Sebenarnya ngga masalah kalau kuliah pagi karena tenaga masih full dan ngga lesu. Tapi di sisi lain karena kuliahnya pagi, kadang kantuknya masih terasa,” jelas Dhia, salah satu mahasiswa semester empat Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman.

Tantangan terbesar biasanya muncul menjelang siang, ketika energi mahasiswa mulai menurun. Karena itu, mahasiswa berusaha memaksimalkan waktu pagi untuk benar-benar memahami materi. Ramadan juga melatih kedisiplinan, bangun sebelum fajar, mengatur waktu istirahat, hingga menjaga kondisi tubuh menjadi bagian dari adaptasi. Dari situlah muncul kesadaran bahwa kuliah pagi bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk komitmen terhadap proses belajar.

Editor: Hestina Novesima Rachmadani

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *