Aula Bambang Lelono malam itu dipenuhi tawa. Namun, tawa itu perlahan berubah menjadi rasa waswas, lalu berujung pada kejaran. Bukan kejaran biasa, melainkan kejaran atas kebenaran. Itulah suasana yang dibangun pementasan drama kelas A berjudul Matahari di Sebuah Jalan Kecil dalam rangkaian acara Jagat Rasa 2025, Rabu (10/12).
Cerita bermula sederhana: sebuah pabrik tahu di kawasan Grendeng, seorang satpam, dan kabar tentang maling di desa sebelah. Kabar itu sempat berlalu ketika sang satpam meninggalkan pos karena keperluan mendesak. Pada saat yang sama, warga berkumpul menikmati pecel, bercakap ringan, dan menjalani rutinitas keseharian yang terasa dekat dengan penonton.
Kehadiran seorang pria asing perlahan mengubah suasana. Ia memesan pecel, tetapi mengaku dompetnya tertinggal saat hendak membayar. Bau badan yang menyengat membuat warga saling bertukar pandang. Kecurigaan tumbuh, kepercayaan diuji. Permintaan jaminan pun muncul, dari barang pribadi hingga pakaian yang dikenakan pria tersebut.
Ketegangan sempat mereda ketika seorang perempuan kaya datang dan membayar makanan itu dengan uang jauh lebih besar dari harga seharusnya. Namun, uang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Warga tetap menahan pria asing itu, seolah rasa aman lebih berharga daripada rasa kasihan.
Di tengah kerumunan, penjual pecel lansia menjadi satu-satunya yang luluh. Mendengar keluh kesah sang pria, ia mengembalikan pakaian yang sempat disita. Adegan itu tampak sebagai penutup yang tenang hingga kebenaran datang terlambat.
Satpam kembali dengan kabar yang sejak awal diabaikan: pria tersebut adalah maling dari desa sebelah. Tak hanya itu, ia juga mencuri pengeras suara milik perempuan kaya yang sebelumnya membelanya. Pementasan ditutup dengan kejaran warga, tawa penonton, dan ironi yang menyisakan renungan.
Melalui balutan komedi, Matahari di Sebuah Jalan Kecil menyampaikan kritik sosial tentang prasangka, empati, dan keadilan yang kerap berjalan timpang. “Seru banget, lucu, keren,” ujar Ida, salah satu penonton. Sementara itu, Aca menilai pementasan ini mampu menyentuh emosi penonton. “Bagus banget, bisa mempengaruhi penonton. Pemerannya juga pas, kayak cocok banget gitu, menjiwai,” tuturnya. Ia bahkan memberi rating 9,5 dari 10.
Tak hanya dari atas panggung, pengalaman Jagat Rasa 2025 juga diperkuat oleh pameran fotografi jurnalistik. Deretan foto yang dipajang menampilkan potret kehidupan sehari-hari mulai dari anak-anak, ruang publik, dan interaksi manusia yang seolah menjadi cermin dari cerita di panggung, tampak sederhana, dekat, dan penuh rasa.
Melalui drama dan fotografi, Jagat Rasa 2025 mengajak penonton untuk tidak sekadar melihat dan mendengar, tetapi juga merasakan. Sebab di balik tawa dan kejaran di sebuah jalan kecil, selalu ada cerita tentang manusia dan pilihannya.
Editor: Ida Fitri Nur Rahmah
