
Mahasiswa perantau datang ke kota baru untuk mengejar pendidikan yang lebih baik, namun kenyataannya mereka harus menghadapi rindu yang muncul hampir setiap hari. Tinggal jauh dari keluarga, beradaptasi dengan lingkungan asing, dan belajar mandiri menjadi hal yang tidak selalu mudah. Pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan, di mana mereka bisa merasa nyaman, dan bagaimana cara bertahan muncul sejak awal mereka menjejakkan kaki di perantauan.
Di masa penyesuaian, keluhan sering terdengar dari mahasiswa baru. Fira, salah satu mahasiswa rantau, mengatakan, “Aku masih sering kewalahan. Kuliah, beres-beres, semuanya harus sendiri.” Ia melanjutkan, “Kadang aku cuma pengin pulang karena capek, tapi ya nggak bisa. Mau nggak mau harus dijalanin.” Ucapannya menggambarkan betapa beratnya adaptasi awal bagi sebagian besar mahasiswa.
Seiring waktu, banyak mahasiswa mulai menemukan cara mengatasi rindu dan tekanan. Mereka menjaga komunikasi dengan keluarga, mengandalkan teman untuk saling membantu, dan mendapatkan ketenangan melalui rutinitas ibadah. Dukungan sosial seperti ini terbukti membuat mereka lebih percaya diri dan membantu mengurangi rasa sepi selama masa penyesuaian.
Akhirnya, kehidupan merantau menjadi proses belajar yang tidak hanya soal kuliah, tetapi juga soal memahami diri sendiri. Di mana pun mereka tinggal sekarang dan kapan pun rasa rindu muncul, mereka belajar bahwa bertahan adalah bagian dari perjalanan membangun masa depan. Hidup baru mereka dibentuk perlahan melalui pengalaman sehari-hari yang sederhana namun berarti.
Editor:
