Mengenal Biyung Narsih, Maestro Lengger Banyumasan di Era Digital

Dokumentasi Sanggar Ngudi Luwesing Salira (30/09/25)

Banyumas – Di tengah derasnya arus budaya populer dan derasnya perkembangan dunia digital, nama Biyung Narsih tetap bersinar sebagai salah satu maestro Lengger Banyumasan, seni tari tradisional yang sarat makna dan filosofi kehidupan masyarakat Banyumas. Dengan dedikasi tinggi serta semangat pantang menyerah, Biyung Narsih terus menjaga eksistensi Lengger agar tidak terkikis oleh perubahan zaman.

Sejak usia muda, Biyung Narsih telah menekuni dunia tari. Ia dikenal bukan hanya sebagai penari, tetapi juga sebagai guru dan pelestari budaya yang menularkan kecintaannya kepada generasi berikutnya. Setiap gerakannya memancarkan nilai-nilai kesederhanaan, keanggunan, serta kekuatan perempuan Banyumas yang tegas namun berwibawa.

Tari Lengger Banyumasan merupakan kesenian tradisional yang menggambarkan kegembiraan dan keindahan hidup masyarakat pedesaan Banyumas. Dalam setiap pementasannya, Lengger tidak hanya menonjolkan gerakan lembut dan gemulai, tetapi juga menjadi media komunikasi sosial sekaligus sarana pelestarian nilai-nilai lokal yang kaya akan filosofi kehidupan.

Dalam sebuah wawancara, Biyung Narsih mengungkapkan berbagai tantangan yang ia hadapi dalam menjaga kelestarian Lengger di tengah gempuran budaya modern.“Tantangan terbesar adalah perubahan minat masyarakat, terutama generasi muda, yang kini lebih tertarik pada budaya populer dan hiburan digital seperti media sosial. Akibatnya, kesenian tradisional seperti Lengger sering dianggap kuno. Selain itu, kurangnya regenerasi penari dan minimnya dukungan dari berbagai pihak juga menjadi kendala,” tutur Biyung Narsih.

Namun, alih-alih menyerah, Biyung Narsih justru melihat era digital sebagai peluang baru. Melalui media sosial, ia aktif membagikan dokumentasi pementasan dan kegiatan latihan Lengger, agar lebih banyak orang mengenal keindahan serta makna yang terkandung di dalamnya.

Tidak hanya aktif menari, Biyung Narsih juga rutin mengadakan pelatihan tari bagi anak-anak dan remaja di lingkungannya. Upaya ini menjadi wadah regenerasi penari muda agar tradisi Lengger tetap hidup dan tidak kehilangan penerusnya. Ia pun berharap adanya dukungan lebih besar dari masyarakat dan lembaga kebudayaan untuk menjaga keberlanjutan seni tradisional tersebut.

Perjuangan Biyung Narsih menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat, selama disertai inovasi dan kecintaan terhadap budaya sendiri. Melalui sosok-sosok seperti beliau, Lengger Banyumasan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi generasi masa depan untuk terus mencintai dan merawat budaya lokal di tengah arus digitalisasi yang kian cepat.

Editor: Meta Khairul Fatami

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *