Purwokerto—Menjelang penayangan Wicked Part 2 pada 21 November 2025, antusiasme penonton kian menguat dan terpantau jelas di berbagai platform digital dan komunitas penggemar. Lonjakan tagar #WickedPart2 dan peningkatan pencarian “Wicked Part 2 trailer” di Google Trends sejak awal September 2025 mengindikasikan film ini sebagai salah satu adaptasi sastra modern paling dinantikan tahun ini. Fenomena ini tidak hanya menarik peronton umum, tetapi juga menjadi bahan kajian bagi mahasiswa jurnalistik dalam mengamati bagaimana budaya populer membentuk gelombang percakapan di ruang digital.
Antusiasme ini berakar dari kesuksesan Wicked Part 1 (22 November 2024), yang mengangkat kisah masa lalu dua tokoh sentral, Elphaba dan Glinda, yang jarang dieksplorasi dalam media lain. Berdasarkan laporan produksi Universal Pictures dan media kredibel seperti The Hollywood Reporter dan Variety, film yang disutradarai Jon M. Chu ini diperkuat oleh jajaran pemeran ternama, seperti Cynthia Erivo, Ariana Grande, Michelle Yeoh, Jonathan Bailey, dan Jeff Goldblum. Kehadiran mereka turut membangun ekspektasi tinggi untuk kelanjutan kisahnya.
Antusiasme penonton semakin nyata melalui testimoni langsung. “Bagian pertama menyentuh sisi emosional, terutama pada dinamika Elphaba,” ujar Nayagi, salah satu penonton Wicked Part 1.

Daya tarik Wicked juga ditopang oleh dunia visualnya yang memukau. Proses produksi di Sky Studios Elstree, Inggris, menggunakan set berskala besar dan efek praktis, seperti penanaman jutaan bunga tulip untuk menciptakan lanskap Oz yang imersif. Informasi ini diverifikasi dari laporan Deadline Hollywood dan rilis resmi Universal Pictures. Teknik rekaman vokal langsung (live-recorded vocals) tetap dipertahankan untuk menjaga kualitas musikal, memberikan nuansa autentik bagi penonton yang familiar dengan versi Broadway.
Fenomena budaya ini sejalan dengan kajian ilmiah adaptasi sastra. Menurut perspektif Adaptation Studies dalam Oxford Academic, adaptasi bukan sekadar pemindahan teks ke medium lain, melainkan transformasi budaya yang menciptakan makna baru bagi audiens kontemporer. Wicked merepresentasikan hal ini melalui reinterpretasi karakter, perluasan konflik sosio-politik, dan penyajian ulang moralitas yang kompleks, melampaui sekadar dikotomi “baik” dan “jahat”. Kerangka akademik ini memperkuat kredibilitas pemberitaan dengan memberikan landasan teori bagi fenomena antusiasme publik.
Dari perspektif budaya, Wicked menjadi contoh adaptasi modern yang memicu ruang diskusi baru. Forum komunitas seperti Wicked Fans Forum dan diskusi di Reddit menunjukkan bahwa pembagian cerita menjadi dua bagian memberi ruang untuk eksplorasi yang lebih mendalam. Hal ini memperlihatkan hubungan antara karya asli, musikal panggung, dan film sebagai satu kesatuan pengalaman budaya yang saling melengkapi.
Meluasnya antusiasme publik membuktikan kekuatan budaya populer dalam menghidupkan kembali teks sastra bagi generasi baru. Dengan visual yang megah, musik yang ikonik, dan narasi sarat nilai, Wicked Part 2 diproyeksikan menjadi salah satu film adaptasi paling berpengaruh pada akhir 2025. Melalui kombinasi data digital, verifikasi produksi, wawancara penonton, dan landasan kajian ilmiah, dapat disimpulkan bahwa peningkatan antusiasme terhadap Wicked Part 2 bukanlah sekadar asumsi, melainkan fenomena nyata yang terukur dan terverifikasi.
Editor: Nayagi Abdillah Shinta Utami
