Cuplikan video musik “Tabola Bale” (Sumber: Tangkapan layar @siletopenup)
Purwokerto — Lagu “Tabola Bale” yang dibawakan oleh Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel terus menjadi perbincangan karena pencapaiannya yang luar biasa di dunia musik Indonesia. Pada AMI Awards 2025, yang digelar di Jakarta pada 19 November 2025, lagu ini berhasil memenangkan tiga kategori sekaligus, yaitu Pencipta Lagu Pop Terbaik, Karya Produksi Kolaborasi Terbaik, dan Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah Terbaik. Prestasi besar ini membuat banyak orang semakin menyadari potensi musik dari kawasan Indonesia Timur.

Popularitas “Tabola Bale” sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum kemenangan di AMI Awards. Lagu ini viral di media sosial berkat iramanya yang energik dan mudah digunakan sebagai latar video pendek serta dance cover di TikTok dan Instagram. Selain ramai di media sosial, lagu ini juga mendominasi platform streaming.“Tabola Bale” hingga saat ini masih berada dalam daftar Spotify Top 50 Indonesia, meskipun sudah tujuh bulan sejak perilisan lagu tersebut, yang menunjukkan bahwa lagu ini masih terus mendapatkan perhatian dan dukungan dari para pendengar.
Daya tarik “Tabola Bale” tidak hanya terletak pada musiknya, tetapi juga pada bahasa dan budaya yang dibawa dalam liriknya. Lagu ini memadukan musik khas Indonesia Timur dengan bahasa Minang, menciptakan warna yang unik. Keunikan tersebut tampak dari cara lirik menggambarkan kekaguman dan kerinduan melalui diksi khas wilayah Timur, seperti penggunaan Kaka, Ade, Nona, su makin manyala, hingga pulang rantau dari mana. Sementara itu, bagian Minang muncul jelas dalam larik berikut:
Ondeh, Uda, janlah baitu bana
kutipan lirik lagu “Tabola Bale”
Denai ko indaklah nan sarupo itu
Dek hanyo takuik mancaliak Uda
Acok mabuak-mabuakan
Dulu denai lah suko mancaliak Uda bakawan
Raso-raso ko ado, tapi denai diamkan
Bagian ini menampilkan kosakata Minang yang menggambarkan perasaan yang kuat namun hanya disimpan. Ungkapan “raso-raso ko ado, tapi denai diamkan” (ada perasaan tetapi saya diamkan) menunjukkan rasa suka yang tidak berani diungkapkan karena takut salah paham. Nuansa Timur juga terasa kuat melalui pengulangan lirik seperti:
Kaka tabola-bale lia Ade Nona e
kutipan lirik lagu “Tabola Bale”
Su makin manyala e, kaka hati susah e
Ade bikin kaka mete, tidur malam bola-bale
Sejak kaka lia Ade, aduh, Tuhan, ampun e
Bagian ini menampilkan kosakata khas Timur yang menggambarkan seseorang yang terus memikirkan orang yang disukainya hingga gelisah dan sulit tidur. Ungkapan tabola-bale (mondar-mandir), mete (gelisah/pusing), dan bola-bale (sulit tidur) menunjukkan bagaimana perasaan yang semakin kuat dapat mengganggu ketenangan. Larik tersebut memberikan irama puitis yang mudah melekat di ingatan pendengar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa musik dapat menjadi jembatan budaya. Melalui Tabola Bale, pendengar dari berbagai daerah dapat mengenal gaya tutur dan ekspresi masyarakat Timur dan Minang, membuktikan bahwa identitas daerah bukan hambatan dalam industri musik nasional, melainkan kekuatan yang membuat karya semakin berkarakter dan disukai. Keberhasilan ini selaras dengan semakin populernya lagu-lagu Indonesia Timur lain seperti “Tor Monitor Ketua”, “Ngapain Repot”, “Pica-Pica”, “Stecu-Stecu”, “Mode Pesawat” dan sebagainya, yang juga banyak dinyanyikan ulang dan digunakan dalam konten media sosial. Tren ini menunjukkan bahwa musik Indonesia Timur sedang berada pada masa keemasan, dan kreativitas lokal memiliki potensi besar untuk terus bersinar di panggung nasional atau bahkan internasional.
Editor: Miftakhul Sholehah
