Purwokerto — Di tengah derasnya modernisasi pendidikan dan munculnya generasi pengajar muda yang semakin melek teknologi, keberadaan pengajar yang sudah lanjut usia sering kali dipandang sebelah mata. Namun, dalam opini saya, para pengajar senior ini justru merupakan aset penting yang tidak tergantikan—penjaga nilai, moral, dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dunia pendidikan hari ini.
Di berbagai sekolah, terutama di daerah pedesaan dan pinggiran kota, pengajar lansia masih memegang peranan besar dalam proses belajar-mengajar. Mereka mungkin tidak secepat guru muda dalam menggunakan aplikasi pembelajaran digital, tetapi mereka memiliki pengalaman yang tidak bisa dipelajari dari internet: ketelatenan, kedisiplinan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dari hati ke hati.
Menurut beberapa kepala sekolah, pengajar lansia sering kali menjadi figur pengayom, tempat guru-guru muda belajar menghadapi dinamika dunia pendidikan yang sesungguhnya. Mereka telah mengajar dalam berbagai kurikulum, menjalani perubahan sistem, dan menyaksikan langsung perkembangan karakter generasi ke generasi. Pengalaman panjang inilah yang membuat mereka mampu memberikan pandangan bijak dalam menghadapi masalah sekolah maupun siswa.
Tak dapat dipungkiri, tantangan terbesar mereka adalah adaptasi terhadap teknologi. Namun, sebagian besar pengajar lansia justru menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Banyak yang rela ikut pelatihan, belajar dari murid sendiri, atau meluangkan waktu ekstra untuk memahami perangkat digital demi tetap relevan di ruang kelas.
Dalam opini saya, penghargaan terhadap pengajar yang sudah tua harus ditunjukkan secara nyata, bukan hanya sebatas ucapan. Pemerintah perlu memberikan dukungan melalui pelatihan yang ramah usia, kebijakan penugasan yang mempertimbangkan kondisi fisik, serta jaminan kesejahteraan yang layak. Sementara itu, sekolah dan masyarakat perlu lebih menghargai kontribusi mereka yang sering kali tersembunyi di balik rutinitas mengajar.
Pengajar lansia bukan hanya tenaga pengajar, tetapi penjaga nilai-nilai etika dan moral yang rawan hilang di era teknologi. Mereka mengajarkan kesabaran ketika dunia bergerak terlalu cepat, mengingatkan kelembutan dalam budaya yang kian individualistis, dan menunjukkan bahwa mengajar bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa.
Di tengah perubahan pendidikan yang begitu cepat, kehadiran mereka adalah penyeimbang yang menegaskan bahwa kemajuan tidak boleh mengorbankan kemanusiaan. Pengajar lansia membawa pesan penting: bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang kecanggihan, tetapi juga tentang karakter, kebijaksanaan, dan ketulusan yang diwariskan antargenerasi.
