Pelangi di Pinggir Jalan, Potret Makna Kehidupan

Sumber: Dokumen pribadi.

Purwokerto — Matahari telah kehilangan teriknya. Bulan mulai datang menghampiri langit petang. Seorang lelaki dewasa mempersiapkan dagangan mainannya di pinggir jalan. Punggung kekarnya terlalu fokus pada pekerjaan karena berburu dengan waktu. Tangannya dengan lincah dan cekatan menata satu persatu mainan warna-warni, menghadirkan pelangi di pinggir jalan, meski hatinya kerap diselimuti kelabu.

Larut malam, di bawah cahaya lampu jalan, lelaki itu masih bertahan, mencari receh untuk keluarganya. Sejenak ia menghela nafas berat, mencoba melepaskan beban yang membuncah di dada. Sorot matanya penuh harap, meyakini bahwa kerja kerasnya akan berbuah, dagangannya akan laku.

Hiruk-pikuk Kota Purwokerto, ramainya lalu lintas, dan orang-orang berlalu lalang tanpa jeda. Namun ia tetap duduk di tempat yang sama, sunyi di tengah keramaian, menjadikan setiap detik penantian sebagai modal ketekunan demi esok yang lebih terang.

Sumber: Dokumen pribadi.

Itulah kisah yang terekam dalam bingkai yang dipotret oleh Khalisa Noor Ghefira dalam pameran fotografi “Jagat Rasa” di Universitas Jenderal Soedirman. “Temanya makna kehidupan seperti perjuangan. Jadi, mengapa aku ambil foto itu karena menggambarkan dia sedang berjuang di tengah kota,” ujarnya.

Melalui bidikan lensanya, penjual mainan itu bukan lagi sekadar pedagang kecil, melainkan simbol sejati dari seorang lelaki yang menukar setiap helaan napas lelahnya dengan sepotong harapan.

Editor: Rahsya Ayu Arshinta

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *