Banyumas, Pelukis Ekspresif asal Banyumas, Lukis Tanpa Sketsa hingga Tembus Pameran Internasional. Bakat seni kadang menurun begitu saja tanpa direncanakan. Begitu pula dengan sosok pelukis asal Banyumas ini. Ia mulai menyukai seni lukis sejak duduk di bangku SMP, ketertarikannya muncul karena terinspirasi dari sang ayah yang gemar menggambar meski bukan pelukis. Kecintaannya terhadap seni itu terus tumbuh hingga akhirnya menjadi bagian dari hidupnya, bahkan saat ia berprofesi sebagai guru.

Sebagai pelukis yang ekspresif, ia tidak membatasi diri pada satu aliran saja. Ia kerap berpindah gaya dari naturalis, kubisme, hingga abstrak karena tuntutan profesi yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan murid. Baginya, setiap gaya memiliki jiwa dan kebebasannya masing-masing. “Saya gak bisa terikat satu gaya. Semua ada ekspresinya sendiri,” katanya.
Karyanya juga tak terpaku pada satu medium. Ia melukis di beberapa media seperti di kanvas, kertas, bahkan dinding sekolah tempatnya mengajar dulu. Cat akrilik, cat air, hingga cat minyak pernah ia gunakan. Ia juga tak ragu melukis dengan jari—finger painting—demi mendapatkan sentuhan yang lebih personal. “Media itu cuma perantara, yang penting rasa yang keluar,” ujarnya. Ia menambahkan, baginya seni bukan soal alat yang mahal, melainkan kemampuan seseorang memaksimalkan dirinya. “Berkarya gak perlu pakai bahan mahal, seadanya aja. Kalau bisa memaksimalkan diri, pasti sukses,” tuturnya.
Sejak tahun 2001, karya-karyanya mulai dipamerkan di berbagai tempat, dari balai seni hingga depan rumahnya sendiri. Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika ia membentangkan lukisan sepanjang 168 meter di depan rumahnya, yang kemudian diliput oleh program televisi On The Spot. Bahkan, salah satu karyanya pernah dipamerkan sampai ke Peru pada tahun 2015, membuktikan bahwa semangat berkarya bisa menembus batas wilayah.
Meskipun ia sudah pensiun dari dunia mengajar, rumahnya kini menjadi galeri mini yang bisa dikunjungi siapa saja. Semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, bisa menikmati hasil karyanya. Ia percaya bahwa seni adalah bahasa universal yang dapat dinikmati siapa pun tanpa harus memahami teori.
Salah satu karyanya yang terbaru akan ikut dipamerkan dalam acara ulang tahun Kabupaten Banyumas di Hetero Space Purwokerto. Lukisan tersebut menggambarkan suasana pelantikan bupati pertama Banyumas, ia mengerjakan lukisan ini dengan teknik kubisme menggunakan cat akrilik di atas kanvas. Ia melukis tanpa sketsa maupun penggaris, hanya mengandalkan imajinasi dan intuisi saja.

Dalam lukisan tersebut, latar belakang gunung dan Sungai Serayu menjadi simbol Banyumas, sedangkan lingkaran merah di belakang figur utama melambangkan sorotan terhadap sosok pemimpin. Di atas pendopo terdapat payung yang berarti pelindung rakyat, sedangkan tiga pohon di depan bupati menggambarkan tiga kebutuhan pokok manusia: pangan, sandang, dan papan. Menariknya, wajah sang bupati yang dilukis bukanlah potret nyata, melainkan imajiner—cerminan dari sosok pemimpin ideal menurut sang pelukis.
Baginya, tantangan pelukis masa kini adalah derasnya arus teknologi digital yang membuat seni tradisional kian tersisih. Namun ia percaya bahwa selama masih ada orang yang mau melukis dengan hati, seni lukis tak akan pernah mati. “Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” ujarnya dengan senyum tenang.
Editor: Okty Astri Rahmadani
