
Purwokerto — Fenomena duck syndrome semakin menjadi sorotan di kalangan mahasiswa, baik nasional maupun internasional. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Stanford University, setelah layanan kesejahteraan mahasiswanya mengamati banyak mahasiswa yang tampak santai dan berprestasi di permukaan, tetapi sebenarnya mengalami tekanan akademik dan emosional yang sangat tinggi di belakang.
Dalam penjelasan resmi Stanford Student Affairs, duck syndrome diartikan sebagai kondisi ketika mahasiswa “tampak melaju mulus”, tetapi di balik layar mengalami berbagai keadaan, seperti stres berat, kecemasan, dan beban mental berlebih. Tekanan sosial untuk terlihat “baik-baik saja” dapat mendorong sebagian mahasiswa menyembunyikan usaha yang sudah dirinya lakukan untuk mencapai kesuksesan tersebut, sehingga memicu ketidakseimbangan mental jangka panjang.
Fenomena ini turut menjadi perhatian para praktisi pendidikan dan psikologi kampus, Anisa Yuliandri, M.Psi., Psikolog dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa banyak mahasiswa merasa perlu mempertahankan citra sempurna mereka, seperti menjadi individu yang aktif dalam berorganisasi, berprestasi dalam bidang akademik, dan tetap terlihat bahagia, meskipun sedang berada di bawah tekanan yang berat. Ia menilai bahwa budaya kompetitif, ekspektasi keluarga, serta standar sosial yang terbentuk di media digital memperbesar kecenderungan duck syndrome di kalangan mahasiswa.
Tekanan internal seperti takut gagal, perfeksionisme, dan keinginan kuat untuk memenuhi ekspektasi sosial membuat mahasiswa enggan mencari bantuan, bahkan ketika kondisi mental mereka sudah rentan. Menanggapi situasi tersebut, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia kini mulai meningkatkan akses layanan konseling, memberikan edukasi kesehatan mental, serta mengajak mahasiswa untuk menormalisasi percakapan mengenai stres dan burnout.
Fenomena duck syndrome menjadi pengingat bahwa apa yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan kondisi seseorang yang sebenarnya. Tekanan untuk tampil sempurna dapat berubah menjadi perang batin berkepanjangan bagi mahasiswa. Maka dari itu, kesadaran kolektif dari kampus, keluarga, dan lingkungan diperlukan untuk membantu mahasiswa keluar dari beban yang tak terlihat itu.
Editor: Afifah Ghina Khalda
