Puasa Ramadan: Memperbaiki atau Justru Memperburuk Kesehatan? Ini Fakta Medisnya

Puwokerto – Bulan Ramadan telah tiba, dan umat Muslim di seluruh dunia kembali menjalankan ibadah puasa. Di balik nilai spiritualnya, puasa yang menahan lapar dan haus selama lebih dari 13 jam sering memicu perdebatan: apakah pola makan ini membuat badan semakin sehat, atau justru sebaliknya? Sebagian orang khawatir puasa bisa melemahkan tubuh karena kekurangan asupan, sementara yang lain merasakan kebugaran setelah sebulan berpuasa. Lantas, bagaimana fakta medisnya?

Kekhawatiran umum yang sering muncul adalah puasa dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terhadap infeksi. Namun, penelitian justru menunjukkan arah sebaliknya. Seiring waktu, tubuh beradaptasi. Penelitian yang terbit dalam Journal of Nutrition Fasting and Health menyebutkan bahwa meskipun terjadi penurunan nutrisi selama puasa, hal ini tidak berbahaya bagi orang sehat karena nutrisi tersebut akan kembali terpenuhi saat berbuka. Lebih jauh lagi, studi terkini menemukan bahwa berpuasa, terutama selama Ramadan, dapat mengubah mekanisme tubuh untuk meningkatkan imunitas. Berpuasa minimal tiga hari disebut dapat memacu produksi sel darah putih baru, yang berfungsi meremajakan sistem kekebalan tubuh.

Sumber: Gambar ilustrasi (dokumentasi pribadi)

Manfaat puasa tidak hanya terbatas pada sistem imun. Pada laman resmi kementerian kesehatan, memaparkan bahwa puasa memiliki segudang manfaat kardiovaskular. Sebuah studi yang dipublikasikan di Jurnal Obesity membuktikan bahwa puasa selama delapan minggu mampu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) hingga 25 persen dan trigliserida hingga 32 persen.

Meskipun banyak manfaatnya, para peneliti juga mengingatkan bahwa puasa tidak lepas dari tantangan. Studi yang sama dalam Indian Journal of Endocrinology and Metabolism mencatat beberapa efek samping yang umum dirasakan, seperti rasa lapar berlebihan, kelelahan (fatigue), dan mudah marah (irritability).

Lalu, bagaimana cara agar puasa memberikan dampak positif, bukan malah membuat sakit?  Menurut dr. Retno Purwaningtyas, kunci utama agar tubuh tetap fit selama puasa terletak pada kualitas makanan saat sahur dan berbuka. “Sahur ataupun makan malam sebaiknya diisi dengan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak yang lengkap. Misalnya nasi dengan paduan ikan atau ayam dan sayur-sayuran,” jelas dr. Retno Purwaningtyas.

Dari berbagai riset dan penjelasan ahli, dapat disimpulkan bahwa puasa, jika dijalankan dengan benar, justru membuat badan semakin sehat. Manfaatnya terbukti secara ilmiah, mulai dari meningkatkan sistem imun, menurunkan kolesterol, hingga menjaga kesehatan jantung. Namun, efek sebaliknya bisa terjadi jika pola makan tidak dijaga. Risiko seperti lemas, dehidrasi, dan gangguan metabolisme mengintai mereka yang mengonsumsi makanan secara sembarangan saat berbuka dan sahur. Pada akhirnya, puasa Ramadan mengajarkan kita sebuah keseimbangan: bahwa kesehatan ragawi dan keberkahan spiritual adalah dua hal yang bisa diraih bersamaan, asalkan kita mau mendengarkan anjuran ilmu dan menjaga niat dari dalam hati. Di bulan yang penuh ampunan ini, mari jadikan tubuh kita sebagai amanah yang dirawat, bukan sekadar wadah yang diisi tanpa aturan.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *