Purwokerto – Suasana Ramadan menghadirkan nuansa yang berbeda bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. Jika biasanya momen sahur dan berbuka puasa identik dengan kebersamaan keluarga, mahasiswa perantauan harus beradaptasi dengan lingkungan baru, ritme perkuliahan, serta keterbatasan waktu dan fasilitas. Kuat Aldiyanto atau Aldi,mahasiwa Pendidikan Bahasa Indonesia Unsoed. Tahun ini adalah tahun kedua Aldi menjalani ibadah puasa di perantauan. Ada perbedaan ketika menjalani puasa di rumah dan di tanah rantau. “Paling terasa pada saat sahur, biasanya sewaktu berpuasa di rumah saya tidak perlu harus keluar untuk membeli makanan, perbedaan yang lain ada pada kehangatan saat buka puasa” kata Aldi.
Di tengah padatnya jadwal akademik, tugas kuliah, hingga aktivitas organisasi, tetap berupaya menjaga konsistensi ibadah. “Cara saya menjaga konsistensi ibadah dengan mencari lingkungan yang mendukung saya untuk beribadah” ujar Aldi. Tantangan seperti mengatur keuangan untuk kebutuhan harian, menyiapkan sahur secara mandiri, hingga menahan rasa rindu terhadap keluarga menjadi bagian dari dinamika Ramadan di perantauan. “Tantangan terbesar itu pada saat bangun sahur, kadang suka kesiangan” katanya.
Namun, di balik berbagai tantangan tersebut banyak pelajaran yang dapat di ambil,salah satunya adalah tentang kemandirian “Pelajaran yang saya rasakan adalah saya menjadi lebih mandiri, bisa lebih mengatur keuangan dan dengan berpuasa diperantauan bagi saya bisa menjadi salah satu cara untuk evaluasi diri dan merenungkan diri”
Editor : Muhammad Nollan Fatwa
