Ramadan di Serambi Masjid

Purwokerto—Langit senja memperlihatkan semburat hangatnya, menyapa lembut insan-insan yang justru berpadu riuh. Menjelang magrib, deru motor sedang gencar-gencarnya, melintas memadati jalan raya. Sebagian berburu kudapan untuk berbuka, sekilas menikmati aroma semerbak yang mengepul di tepi jalan. Sementara beberapa di antara yang lainnya melangkah dengan tergesa, membelah barisan pemotor dengan perasaan yakin, lantas menuju masjid besar yang dikelilingi pepohonan dengan tempat salat berlantai marmer, yakni Masjid Fatimatuzzahra.

Di serambi masjid, jemaah duduk bersisian menunggu azan berkumandang, merasakan euforia Ramadan di antara rindu dan lelah. Selama sebulan penuh, masjid itu membuka pintu untuk semua yang ingin berbuka. Menyediakan 1.500 porsi setiap hari dengan diawali segelas air dan tiga biji kurma, lalu disusul dengan sekotak nasi yang tampak sederhana tetapi menyimpan beratnya makna, berlimpahnya ketulusan, serta rasa syukur yang memancar pelan di antara bisikan doa.

Sekotak nasi itu bukan sekadar makanan. Ia adalah wujud kepedulian, jembatan kebersamaan, dan simbol doa yang diam-diam mengalir di setiap tangan yang menyiapkan, menata, hingga membagikan kotak demi kotak tanpa gaduh seolah tidak ada kata lelah untuk menyediakan iftar bagi jemaah yang berpuasa.

Ramadan di serambi masjid mengajarkan bahwa setiap kotak nasi adalah simbol kehangatan, pengingat akan kemanusiaan yang sederhana, dan bukti bahwa dalam setiap tindakan kecil selalu ada kesempatan untuk menebar kebaikan.

Editor: Tsabita Naila Shahwa

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *