Sastra dan Budaya Indonesia: Warisan yang Mulai Tergerus Zaman

Purwokerto Sastra dan budaya Indonesia kembali menjadi sorotan setelah sejumlah akademisi, pegiat literasi, dan budayawan menyuarakan kekhawatiran atas menurunnya minat generasi muda terhadap karya sastra lokal. Fenomena ini muncul seiring kuatnya arus digitalisasi serta pola konsumsi media yang semakin cepat, visual, dan instan. Dampaknya dirasakan oleh seluruh elemen bangsa, mulai dari pelajar, pendidik, hingga pemerhati budaya.


Gejala penurunan minat tersebut semakin terlihat dalam dua dekade terakhir, terutama sejak perkembangan teknologi digital yang begitu pesat. Kondisi ini tampak jelas di sekolah, lingkungan akademik, dan ruang publik digital. Generasi saat ini lebih akrab dengan konten singkat berbasis visual sehingga interaksi dengan teks sastra menjadi berkurang.

Situasi ini menuntut adanya upaya yang lebih terarah agar sastra tetap memiliki tempat di tengah perubahan budaya baca generasi muda. Langkah pelestarian dapat dilakukan melalui pendidikan karakter yang menempatkan sastra sebagai media pembentukan kepekaan dan nilai-nilai etis, inovasi literasi yang menghadirkan pendekatan pembelajaran lebih kreatif dan sesuai perkembangan zaman, serta pelibatan teknologi dengan bijaksana agar karya sastra tetap mudah dijangkau dan menarik untuk diakses.


Dalam lanskap literasi saat ini, keterampilan membaca, menafsirkan teks, serta berpikir kritis menjadi kemampuan penting yang harus terus ditingkatkan. Sastra Indonesia tidak hanya mengajarkan estetika bahasa, melainkan membentuk kecerdasan emosional dan logika interpretasi. Puisi, cerpen, dan novel karya sastrawan Indonesia menawarkan ruang refleksi sekaligus latihan analisis yang sangat dibutuhkan di era informasi cepat.

Meski begitu, teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi perkembangan sastra. Justru, teknologi dapat menjadi jembatan baru antara karya sastra dan generasi muda. Adaptasi sastra dalam bentuk buku audio, film, gim interaktif, hingga visual storytelling mampu memperluas akses sekaligus menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda. Dengan pendekatan pedagogis yang tepat, sastra dapat kembali hadir sebagai bagian dari gaya hidup intelektual.

Selain mengembangkan keterampilan, sastra Indonesia juga mengajarkan nilai etika dan moralitas. Melalui tokoh, konflik, dan amanat cerita, generasi muda dilatih memahami empati, tanggung jawab sosial, dan keberagaman budaya. Sastra bukan sekadar teks, tetapi ruang dialog nilai yang penting bagi pembentukan identitas bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya global.

Sayangnya, dukungan institusional terhadap pelestarian sastra masih belum optimal. Kurikulum sekolah sering memosisikan sastra sebagai pelengkap, bukan bagian inti pembelajaran bahasa. Di banyak daerah, tradisi membaca karya lokal memudar karena dominasi budaya populer asing. Kondisi ini memperlebar jarak antara warisan budaya dan generasi masa kini.

Kolaborasi antara pendidik, pemerintah, komunitas literasi, dan media digital perlu diperkuat. Transformasi literasi berbasis digital dapat menjadi motor penggerak perubahan. Kegiatan seperti lokakarya penulisan kreatif, apresiasi sastra daerah, dan festival kebudayaan perlu digiatkan agar sastra kembali hidup di ruang publik.

Pada akhirnya, sastra dan budaya Indonesia bukan arsip masa lalu, tetapi identitas yang harus dijaga. Melestarikannya berarti merawat etika, membangun kemampuan berpikir, dan memperkuat karakter bangsa. Jika generasi muda mampu memandang sastra sebagai ruang berekspresi dan belajar, masa depan

Editor: Tsabita Naila Shahwa

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *