Secukupnya: Jejak Sastra, Kegelisahan, dan Bahasa Simbolik dalam Musik Pop Indonesia

Hindia saat membawakan lagu “Secukupnya” (Dokumentasi @bisnis.com)

Purwokerto – Lagu “Secukupnya” karya Hindia kembali ramai dibahas di berbagai forum sastra populer setelah banyak pendengar mengaitkan lagu tersebut dengan tema keputusasaan ekstrem. Padahal dalam sejumlah wawancara, Hindia menegaskan bahwa lagu itu ditulis sebagai pengingat agar seseorang menerima hidup seperlunya dan merawat kesehatan mentalnya.

Kesalahpahaman terhadap makna lagu muncul karena sejumlah lirik bernuansa murung seperti “Hidup berjalan seperti biasa, meski tak pernah terasa biasa” yang dianggap pendengar sebagai tanda depresi berat. Dalam penjelasan Hindia pada wawancara 2020, ia menyebut bahwa “Secukupnya” adalah bentuk refleksi, bukan ajakan ataupun desakan emosional. “Liriknya memang gelap, tapi itu tentang menerima, bukan menyerah,” ujar Hindia dalam pernyataannya.

Dirilis pada 2019 melalui album Menari Dengan Bayangan, lagu ini menggambarkan perjalanan batin seorang individu yang berusaha berdamai dengan luka, ekspektasi, dan tekanan sosial. Lirik seperti “Tak ada yang perlu disesali, semua baik saja, secukupnya” dinilai para pengamat sebagai simbol proses self-healing, yakni kemampuan menerima diri tanpa tuntutan berlebihan.

Sejumlah pengamat sastra populer menyebut bahwa gaya penulisan Hindia yang penuh metafora, repetisi, dan struktur seperti puisi bebas membuat lagu ini mudah dianalisis dari aspek sastra. Pola enjambemen dalam beberapa bagiannya yang membuat kalimat terasa mengalir seperti prosa puitis sering menjadi contoh dalam kelas sastra musik di kampus-kampus seni.

Pengamat budaya urban juga menilai bahwa “Secukupnya” berhasil menangkap kegelisahan generasi muda yang hidup dalam tekanan produktivitas dan standar sosial. Bahasa yang digunakan Hindia, ringkas namun sarat simbol, dianggap merepresentasikan cara generasi sekarang mengungkapkan luka batin secara halus dan subtil.

Hingga kini, “Secukupnya” tetap dibicarakan luas di media sosial, kelas-kelas sastra populer, dan komunitas musik independen sebagai salah satu karya yang memadukan estetika bahasa, pengalaman emosional, dan budaya urban dalam satu rangkaian lirik yang kuat dan mudah dikenali.

Editor: Muhammad Faqih Yahya

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *