Standar Keberhasilan TikTok yang Tak Selalu Sejalan dengan Realita

Ilustrasi fenomena standar keberhasilan di Tiktok yang memengaruhi cara remaja menimali pencapaian diri.

Sejak 2020, TikTok mulai memengaruhi perkembangan diri remaja di Indonesia. Hingga 2024, jumlah penggunanya tercatat lebih dari 221 juta. Data tersebut yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna TikTok terbesar di dunia. Popularitasnya yang terus meningkat tidak hanya mengubah pola hiburan, tetapi juga membentuk cara remaja dalam memandan keberhasilan hidup.

Beragam konten yang menampilkan pencapaian di usia muda perlahan membangun adanya standar baru, seolah keberhasilan besar harus diraih secepat mungkin. Standar ini sebenarnya tidak sepenuhnya keliru dan kerap dijadikan sumber motivasi. Namun, ketika narasi tersebut terus-menerus muncul, sesuatu yang awalnya memotivasi justru dapat berubah menjadi sebuah tekanan psikologis.

Tidak sedikit pula remaja yang mulai merasa tertinggal hanya karena langkah mereka tidak secepat dengan pencapaian di media sosial. Perasaan tersebut muncul bukan semata iri, melainkan karena adanya standar keberhasilan yang mulai tampak seperti sebuah kewajiban agar seseorang dianggap “berhasil”. Akibatnya, remaja sering kali merasa tidak cukup dengan hasil yang mereka capai.

Tekanan ini juga mulai dirasakan oleh salah satu remaja, Muyassarah (19). Ia mengungkapkan konten pencapaian yang terus menerus muncul justru membuatnya cemas. “Terkadang standar TikTok yang semakin tidak masuk akal membuat saya merasa minder. Banyaknya tuntutan tidak langsung di TikTok yang membuat saya merasa harus cepat berhasil,” ujarnya. Pengalaman ini memberikan gambaran bahwa narasi “sukses muda” telah berubah menjadi sumber tekanan psikologis baru bagi remaja.

Pada akhirnya, standar keberhasilan yang beredar di TikTok mulai memengaruhi cara seseorang dalam menilai dirinya. Padahal, standar tersebut tidak selalu sejalan dengan kenyataan hidup yang ada. Tidak mengikuti standar tersebut bukan berarti seseorang tertinggal, melainkan bentuk memahami batasan diri. Ruang digital seharusnya menjadi tempat belajar dan berbagi pengalaman, bukan arena pembandingan pencapaian yang membuat remaja merasa gagal sebelum memulai. Oleh karena itu, pengguna perlu lebih kritis dalam menyaring konten yang mereka tonton.

Editor: Luthfi Fadhilah

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *