
Banyumas – Penggunaan bahasa gaul di media sosial terus meningkat di kalangan remaja dan dewasa muda seiring meningkatnya aktivitas komunikasi digital melalui Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Dalam interaksi sehari-hari, lebih dari 80% pengguna media sosial usia 15–25 tahun menggunakan berbagai bentuk bahasa gaul, mulai dari singkatan, adaptasi bahasa asing, hingga modifikasi ejaan yang kini menjadi ciri khas percakapan generasi digital. Bentuk bahasa gaul yang paling dominan adalah singkatan dan akronim yang mencapai lebih dari 40% penggunaan, diikuti adaptasi bahasa asing seperti “healing”, “bestie”, dan “ghosting” yang semakin populer di kalangan remaja Banyumas.
Tren ini memperlihatkan bahwa bahasa gaul menjadi media ekspresi diri dan bentuk kedekatan sosial di kalangan anak muda, terutama dalam komunikasi dengan teman sebaya yang mencapai hampir 90% dari keseluruhan penggunaan. Meski demikian, hanya sekitar 12% bahasa gaul muncul dalam konteks formal, menunjukkan bahwa remaja Banyumas tetap memiliki kesadaran kontekstual dalam memilih ragam bahasa. Kemampuan bahasa formal juga tidak sepenuhnya menurun, karena sebagian besar generasi muda masih mampu menuliskan ejaan dengan benar, menyusun kalimat formal, dan mempertahankan penggunaan kosakata baku dalam penulisan akademik maupun tugas sekolah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa gaul di Banyumas bukan sekadar tren sementara, tetapi bagian dari dinamika linguistik masyarakat digital. Bahasa gaul menjadi sarana kreativitas dan identitas generasi muda, sedangkan kemampuan code-switching membuat mereka dapat beralih antara bahasa gaul dan bahasa formal sesuai kebutuhan. Meskipun demikian, intensitas penggunaan yang berlebihan tetap perlu diwaspadai agar tidak memengaruhi kemampuan berbahasa Indonesia baku yang dibutuhkan dalam konteks akademik maupun profesional.
Editor: Ida Fitri Nur Rahmah
