Wacinwa: Jejak Akulturasi Wayang Cina-Jawa dalam Koleksi Istimewa Museum Sonobudoyo

PURWOKERTO–Sebagai warisan seni yang tumbuh dari pertemuan dua kebudayaan besar, Wacinwa menjadi bukti bahwa akulturasi dapat melahirkan bentuk kesenian yang unik dan berharga. Wayang Cina–Jawa, atau Wacinwa, merupakan salah satu jejak akulturasi budaya yang lahir dari perpaduan tradisi Tionghoa dan Jawa. Seni pertunjukan ini berkembang di Yogyakarta pada awal abad ke-20 dan kini menjadi salah satu koleksi seni tradisi yang menarik perhatian para peneliti budaya. Keberadaan Wacinwa menegaskan bahwa interaksi budaya dapat menghasilkan bentuk kesenian baru yang kaya nilai estetika dan sejarah.

Wacinwa pertama kali dikembangkan oleh Gan Thwan Sing, seorang seniman peranakan Tionghoa yang lahir di Jatinom, Klaten. Berdasarkan artikel sejarah dari Kompas dan Historia, Gan mulai menciptakan bentuk wayang ini sekitar tahun 1925 setelah menguasai teknik pedalangan Jawa. Ia kemudian memadukan kisah-kisah klasik Tiongkok dengan struktur pementasan wayang kulit, sehingga melahirkan seni pertunjukan yang berbeda dari wayang pada umumnya.

Dari sisi visual, Wayang Cina–Jawa memiliki ciri khas berupa ukuran tokoh yang relatif kecil serta kepala yang dapat dilepas dan diganti. Sistem kepala lepas ini memungkinkan satu tubuh wayang digunakan untuk memerankan tokoh berbeda, sehingga memberikan fleksibilitas dalam pementasan. Kajian akademik oleh Tanomi dan Christiana (2015) menegaskan bahwa karakter visual dan naratif Wacinwa merupakan hasil langsung dari proses akulturasi antara ikonografi Tiongkok dan teknik pembuatan wayang Jawa.

Pada masa kejayaannya, sekitar 1930–1950-an, Wayang Cina–Jawa cukup dikenal di Yogyakarta dan sekitarnya. Namun, beberapa catatan menyebutkan bahwa tradisi pementasan ini mulai meredup sekitar tahun 1960 karena tidak adanya penerus pedalang Wacinwa. Meski demikian, jejaknya masih dapat ditemukan melalui koleksi wayang, artikel sejarah, serta publikasi akademik yang meneliti hubungan budaya Tionghoa–Jawa.

Nilai penting Wayang Cina–Jawa tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada makna sosial-budayanya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa Wacinwa menjadi simbol interaksi harmonis antara komunitas peranakan Tionghoa dan masyarakat Jawa. Melalui seni pertunjukan, kedua budaya tersebut saling bertemu, saling memengaruhi, dan menciptakan tradisi baru yang memperkaya khasanah kebudayaan Nusantara.

Dengan dukungan sumber-sumber tepercaya seperti jurnal ilmiah, artikel budaya, serta catatan sejarah, keberadaan Wayang Cina–Jawa dapat dipahami sebagai bukti konkret bahwa keragaman budaya Indonesia telah lama terbentuk melalui proses dialog dan kreativitas masyarakat. Jejak seni wayang akulturatif ini terus menjadi rujukan penting bagi para peneliti yang meneliti identitas, sejarah lokal, dan dinamika hubungan antarbudaya di Jawa.

Editor: Rizki Wahyu Aulia Nisa

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *