
Purwokerto — Waktu bergerak tanpa henti, tetapi bagi banyak mahasiswa, waktu kerap terbuang percuma. Tugas menumpuk dan jadwal kuliah padat sering kali membuat ponsel menjadi godaan utama. Melalui Reels di akun Instagram miliknya, @maxwellsalvadorr, mahasiswa Universitas Airlangga sekaligus kreator konten mengingatkan bahwa waktu memang tidak bisa diulang.
Dalam videonya, Maxwell menyampaikan, “Waktu itu gratis, tetapi kita tidak bisa membelinya kembali. Kalau kamu diberi waktu, jangan kamu buang hanya untuk ngomel, bengong, atau main HP seharian.” Ucapan tersebut menarik perhatian banyak mahasiswa karena dianggap mewakili kebiasaan menunda yang semakin sering terjadi.

Unggahan itu mendapat beragam tanggapan dari warganet. Salah satu pengguna Instagram menulis, “Bukan cuma waktu adalah uang, tetapi waktu juga pedang. Semakin tidak bisa menghargai waktu, semakin dirimu tergores dan akhirnya menyesal.” Komentar lain menambahkan, “Waktu tidak memberi kesempatan untuk mengulang, tetapi waktu memberi kesempatan untuk berubah.” Respons tersebut memperkuat pandangan bahwa kemampuan mengelola waktu menjadi hal penting, terutama bagi mahasiswa yang memiliki banyak tanggung jawab akademik.
Kebiasaan menunda atau prokrastinasi memang kerap terjadi di kalangan mahasiswa. Sejumlah artikel pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan ponsel tanpa kontrol, kurangnya perencanaan, serta tekanan akademik membuat mahasiswa kesulitan mengatur waktu. Dampaknya, tingkat stres meningkat dan produktivitas belajar menurun.
Untuk mengurangi kebiasaan tersebut, sejumlah kampus menganjurkan mahasiswa menyusun daftar prioritas, menetapkan jadwal belajar harian, serta membatasi penggunaan ponsel pada waktu tertentu. Langkah-langkah ini dinilai membantu mahasiswa menyelesaikan tugas lebih efektif sekaligus menjaga keseimbangan antara belajar dan istirahat.
Pada akhirnya, pesan Maxwell terasa relevan bagi banyak mahasiswa. Menghargai waktu bukan hanya soal kedisiplinan, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Waktu terus berjalan. Ketika penundaan terus dilakukan, yang tersisa bisa jadi hanya penyesalan.
Editor: Nasya Ramadhani
