Banjarnegara—Bulan puasa bukan hanya bulan ibadah tetapi, juga momentum untuk memperbaiki pola hidup, termasuk menjaga berat badan dan kebugaran. Namun, benarkah olahraga 30 menit setiap hari menjadi kunci diet saat Ramadan?
Isu ini kembali menjadi perhatian karena tidak sedikit orang yang justru mengalami kenaikan berat badan selama Ramadan akibat pola makan yang tidak terkontrol. Padahal, faktanya berat badan dapat turun dengan diet saat Ramadan yang diimbangi dengan olahraga tepat dan tidak berlebihan.
Mengatur pola makan dan aktivitas fisik merupakan kunci diet aman saat Ramadan. Kebutuhan nutrisi tetap harus terpenuhi meski berpuasa sekitar 12–14 jam per hari. Selama periode tersebut, tubuh mengalami penyesuaian metabolisme, yakni menggunakan cadangan glikogen dan lemak sebagai sumber energi secara lebih efisien. Jika pola makan saat sahur dan berbuka terkontrol serta aktivitas fisik dilakukan secara terukur, puasa justru dapat membantu menjaga berat badan dan komposisi tubuh.
Lantas, bagaimana dengan anggapan bahwa olahraga saat puasa berbahaya?
Menurut Rini, salah satu pengunjung gym rutin, olahraga berbahaya saat puasa adalah mitos yang tak mendasar. “Malah sangat bagus gym dilakukan ketika akan berbuka puasa,” ujarnya.
Terkait waktu berolahraga, Rini memiliki kebiasaan berbeda. “Saya tetap berolahraga pagi seperti biasa, hanya dikurangi intensitasnya dan beban tidak terlalu berat,” katanya. Artinya, olahraga tetap bisa dilakukan seperti hari biasa, hanya perlu penyesuaian intensitas agar tubuh tidak terlalu lelah.
Ia juga mengaku hasil diet saat puasa justru terasa lebih cepat. “Ya cepat turun banget. Namun, saat sahur biasanya karbo-nya bukan nasi. Ganti labu atau kentang. Perbanyak makan protein dan buah-buahan, minum air putih,” jelasnya. Namun ia juga mengingatkan, “Kalau makannya ngawur malah berat badannya naik. Perut buncit.” Bahkan, ia menambahkan bahwa kebiasaan “khilaf” membeli takjil berlebihan dapat menyebabkan perut buncit dan tubuh terasa lemas.
Secara umum, olahraga 30 menit dengan intensitas ringan hingga sedang terbukti aman dilakukan saat Ramadan, terutama menjelang berbuka atau satu hingga dua jam setelah berbuka. Aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda santai, yoga, atau latihan beban ringan membantu menjaga massa otot, mengontrol kadar gula darah, serta mencegah penumpukan lemak akibat konsumsi kalori berlebih saat berbuka. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan cairan dan menghindari olahraga berat yang berisiko menyebabkan dehidrasi.
Namun demikian, olahraga bukan satu-satunya faktor penentu. Pola makan tetap menjadi faktor utama. Sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cukup cairan agar energi bertahan lebih lama. Saat berbuka, dianjurkan memulai dengan air putih dan makanan ringan, kemudian dilanjutkan dengan menu yang seimbang. Konsumsi gula dan gorengan berlebihan justru dapat menggagalkan tujuan diet.
Dengan demikian, olahraga 30 menit saat Ramadan bukanlah mitos, melainkan strategi gaya hidup sehat. Asal dilakukan dengan intensitas yang tepat dan diimbangi pola makan terkontrol.
Editor: Azra Asyira Ayuntiar
