Chia Seed Saat Sahur dan Berbuka: Kesadaran Gizi atau Tren Sesaat?

Mengonsumsi chia seed saat sahur dan berbuka puasa belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya platform X. Banyak pengguna membagikan pengalaman mereka yang mengaku rutin mengonsumsi chia seed selama Ramadan dan merasakan manfaat seperti penurunan berat badan, tubuh lebih segar, serta pencernaan yang lebih baik. Fenomena ini dengan cepat menarik perhatian publik dan menjadikan chia seed sebagai salah satu menu “wajib” sahur dan berbuka bagi sebagian masyarakat, terutama kalangan muda yang aktif mengikuti tren kesehatan di media sosial.

Di satu sisi, kebiasaan ini dapat dipandang sebagai bentuk meningkatnya kesadaran gizi masyarakat. Chia seed dikenal mengandung serat, protein, dan omega-3 yang baik untuk tubuh, sehingga konsumsinya saat puasa dapat membantu menjaga energi dan mencegah dehidrasi. Tren ini juga menunjukkan bahwa masyarakat mulai memperhatikan asupan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan. Ramadan yang selama ini identik dengan makanan manis dan gorengan perlahan diimbangi dengan pilihan menu yang lebih bernutrisi.

Ilustrasi oleh Fitriana Oktavia

Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan apakah kebiasaan ini benar-benar lahir dari kesadaran kesehatan atau sekadar mengikuti arus tren media sosial. Banyak orang mencoba chia seed bukan karena memahami manfaatnya secara mendalam, melainkan karena terpengaruh testimoni viral dan konten estetik yang beredar. Ketika Ramadan berakhir, bukan tidak mungkin kebiasaan ini ikut menghilang dan digantikan oleh tren makanan sehat lainnya. Pola seperti ini menunjukkan bahwa sebagian gaya hidup sehat masih bersifat musiman dan dipengaruhi oleh popularitas di dunia digital.

Fenomena chia seed saat sahur dan berbuka mencerminkan perubahan cara masyarakat memaknai Ramadan, tidak hanya sebagai bulan ibadah, tetapi juga sebagai momentum memperbaiki pola hidup. Tantangannya adalah bagaimana kebiasaan baik ini tidak berhenti sebagai tren sesaat, melainkan menjadi kesadaran jangka panjang tentang pentingnya menjaga kesehatan. Pada akhirnya, yang lebih penting bukanlah jenis makanan yang sedang viral, melainkan kemampuan individu untuk memilih dan mempertahankan pola konsumsi yang seimbang, baik di bulan Ramadan maupun di luar bulan puasa.

Editor:

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *