Mahasiswa Ingin Kampus Jadi Tempat Berkembang, Bukan Arena Perlombaan Akademik

Mahasiswa Unsoed (Foto: Dokumentasi ProMedia Teknologi/2024

Purwokerto—Mahasiswa menilai bahwa kampus seharusnya menjadi tempat berkembang dan belajar melalui proses, bukan sekadar ruang untuk mengejar gelar atau bersaing satu sama lain. Pandangan ini muncul karena banyak mahasiswa merasa tekanan untuk lulus cepat sering membuat tujuan pendidikan bergeser dari pembelajaran ke perlombaan akademik.

Dalam opini pendidikan yang dimuat Kompas, disebutkan bahwa pendidikan tinggi idealnya membangun pengalaman intelektual, karakter, dan keterampilan mahasiswa, bukan hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah. Artikel tersebut menekankan bahwa kampus perlu memfasilitasi proses belajar yang memberi ruang untuk mencoba, gagal, dan memperbaiki diri.
Pandangan serupa juga muncul dalam tulisan opini di Kumparan, yang menyebut bahwa kampus tidak boleh berubah menjadi “pabrik gelar”. Menurut tulisan tersebut, mahasiswa justru berkembang ketika diberi kesempatan berdiskusi, berpikir kritis, dan terlibat dalam kegiatan yang tidak hanya mengejar nilai.

Pejabat pendidikan tinggi sebelumnya juga mengingatkan bahwa kampus tidak bisa dikelola seperti perusahaan. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan karakter, bukan sekadar institusi yang fokus pada angka kelulusan.
Mahasiswa berharap kampus memberikan ruang untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara seimbang. Mereka ingin suasana belajar yang mendorong kolaborasi, keberanian mencoba, dan kesempatan untuk tumbuh tanpa tekanan membandingkan diri dengan teman.

“Yang kami butuhkan itu kampus yang benar-benar jadi tempat berkembang, bukan tempat balapan,” ujar Jellita, salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Jenderal Soedirman.

Dengan mengembalikan fungsi kampus sebagai ruang tumbuh, proses pendidikan dinilai akan kembali bermakna dan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya berijazah, tetapi juga siap menghadapi tantangan nyata.

Editor: Tsania Kasyifa Rzqi

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *