Purwokerto — Bahasa berubah seiring perkembangan zaman, dan di era digital perubahan itu terjadi dengan sangat cepat. Di sekolah-sekolah, kata healing, bestie, dan random kini terdengar akrab di telinga. Bahasa gaul menjadi bagian dari percakapan sehari-hari pelajar yang tumbuh di tengah budaya media sosial. Fenomena ini mencerminkan kreativitas generasi muda, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan bagi dunia pendidikan: apakah penggunaan bahasa gaul yang meluas dapat memengaruhi kemampuan siswa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?
Bahasa gaul lahir dari cara remaja berinteraksi di dunia digital. Istilah baru menyebar cepat melalui unggahan, komentar, dan percakapan daring. Banyak pelajar merasa penggunaan bahasa gaul membuat komunikasi terasa lebih ringan dan menyenangkan. “Kalau ngobrol pakai bahasa gaul, suasananya lebih cair dan enak. Tapi kalau di kelas atau menulis tugas, saya tetap pakai bahasa Indonesia yang benar,” tutur Tora, siswa kelas XI di salah satu SMA di Purwokerto. Pernyataannya menggambarkan bahwa pelajar sebenarnya mampu menyesuaikan ragam bahasa sesuai situasi.
Guru bahasa Indonesia kini dihadapkan pada tantangan baru dalam proses pembelajaran. Mereka tidak hanya berperan mengajarkan struktur dan kaidah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, bahwa setiap konteks membutuhkan ragam bahasa yang tepat. Beberapa guru memilih memanfaatkan fenomena bahasa gaul sebagai bagian dari pembelajaran, misalnya dengan meminta siswa mengubah teks berbahasa gaul menjadi bahasa baku. Cara ini membuat pelajaran terasa relevan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pentingnya berbahasa dengan benar.
Kebiasaan berbahasa gaul tetap perlu diarahkan agar tidak mengurangi kemampuan siswa berkomunikasi secara formal. Struktur kalimat yang tidak baku dapat terbawa ke dalam tulisan akademik atau tugas resmi. Dunia pendidikan diharapkan mampu menyeimbangkan antara pelestarian bahasa Indonesia dan penerimaan terhadap perkembangan bahasa di kalangan remaja. Pendekatan yang bijak dapat menjadikan bahasa gaul sebagai sarana pembelajaran yang kontekstual dan menarik, bukan menjadi ancaman bagi kemampuan berbahasa siswa.
Bahasa Indonesia akan terus berkembang seiring perubahan zaman. Tugas guru bukan menolak arus perubahan, melainkan mengarahkan agar siswa tetap menghargai dan menggunakan bahasa dengan santun, logis, serta sesuai kaidah kebahasaan. Bahasa gaul dapat menjadi bukti bahwa generasi muda mampu berkreasi melalui bahasa, asal digunakan dengan bijak. Dunia pendidikan memegang peran penting untuk memastikan bahasa Indonesia tetap hidup, kuat, dan bermartabat di tengah derasnya budaya digital.
Editor: Arsa Rahman Hidayatulloh
