Literasi di Era Digital: Ketika Kebiasaan Chat Mengancam Disiplin Komunikasi Tulis Profesional

Gambar Dokumen Pribadi Tafana Khairunisa

Purwokerto–Dunia pendidikan dan industri saat ini menghadapi ironi yang mendalam. Di tengah masifnya penggunaan perangkat digital, banyak pelajar yang terbukti mahir secara teknis justru terbentur pada persoalan fundamental: lemahnya disiplin dalam komunikasi tulis baku. Kesenjangan inilah yang kini menjadi isu serius bagi kesiapan kerja lulusan muda.

Masalah ini bukan lagi urusan internal sekolah; hal ini merupakan persoalan etika profesional. Para pelajar terbiasa membawa pola bahasa chatting yang serba instan—mengabaikan huruf kapital, menyepelekan tanda titik dan koma—langsung ke dalam dokumen resmi seperti laporan magang atau surat lamaran kerja. Kondisi inilah yang menciptakan jurang antara kemampuan teknis yang unggul dan standar administrasi yang dituntut oleh industri.

Kondisi ini sebenarnya sudah lama menjadi perhatian. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, terutama di media sosial, pola bahasa santai sering terbawa ke situasi yang menuntut formalitas. Fenomena tersebut membuat banyak orang kesulitan beralih ke ragam bahasa resmi, sehingga tidak jarang muncul kesalahan serius dalam penulisan dokumen penting.

Salah satu tenaga pengajar menekankan bahwa disiplin berbahasa merupakan indikator etos kerja. “Di mata perekrut, laporan yang penuh kesalahan ejaan adalah red flag yang dapat menunda kesempatan profesional mereka, meskipun secara keterampilan mereka unggul,” jelasnya.

Oleh karena itu, disiplin menulis dan kebiasaan mengoreksi diri merupakan investasi masa depan yang sangat krusial. Kredibilitas profesional kini merupakan perpaduan yang tidak terpisahkan antara keterampilan teknis yang tinggi dan kemampuan komunikasi tertulis yang prima, sehingga memastikan para lulusan benar-benar siap bersaing di pasar kerja global.

Editor: Rizki Wahyu Aulia Nisa

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *