The Conjuring: The Last Rite – Ketika Teror Terbesar Bersemayam di Dalam Jiwa

The Conjuring: The Last Rite tidak sekadar menyajikan teror fiksional belaka. Film ini justru menyelami salah satu kasus paling kontroversial dalam arsip Warren: pembelaan “kerasukan setan” pertama yang digunakan dalam persidangan Amerika Serikat. Kisah ini berpusat pada Arne Cheyenne Johnson (diperankan oleh Ruairi O’Connor), yang didakwa melakukan pembunuhan dan mengklaim dirinya tidak bertanggung jawab karena berada di bawah kendali kekuatan iblis.

Film ini menjadi sekuel ketiga yang sekaligus menjadi titik puncak dari trilogi utama, menghubungkan benang merah dari kasus-kasus sebelumnya, termasuk teror yang menimpa David Glatzel (Julian Hilliard). Alur cerita tidak hanya maju, tetapi juga menyelami kembali lorong-lorong gelap masa lalu Lorraine Warren, membuatnya berhadapan kembali dengan sosok setan yang pernah mengancam jiwanya.

Sumber: Google (Cinema XXI)

Berbeda dengan film horor biasa yang mengandalkan kejutan sesaat, kekuatan The Last Rite justru terletak pada bangunan psikologisnya. Seperti diungkap dalam artikel, konflik batin Lorraine Warren menjadi poros cerita. Penglihatannya yang biasanya menjadi senjata, kini berbalik menjadi sumber trauma yang menggerogoti keteguhannya. Pertarungan terbesar bukan hanya melawan entitas di luar, tetapi melawan ketakutan yang bersarang di dalam diri sendiri.

Dinamika hubungan Ed dan Lorraine Warren tetap menjadi jantung dari film ini. Chemistry yang dibangun Patrick Wilson dan Vera Farmiga selama tiga film berhasil menggambarkan sebuah partnership yang dibangun di atas cinta, iman, dan saling percaya. Dalam The Last Rite, hubungan ini diuji hingga ke batasnya. Ed harus menghadapi kenyataan pahit bahwa istrinya mungkin harus menghadapi bahaya terbesar yang justru datang dari dalam dirinya.

Salah satu aspek menarik yang diangkat yaitu, film ini berani melakukan non-linear storytelling. Adegan-adegan kilas balik tidak hanya berfungsi sebagai pengingat, tetapi sebagai puzzle yang menyempurnakan gambaran besar “The Conjuring Universe”. Penampilan singkat tokoh seperti Maurice dalam adegan flashback bukanlah kameo kosong, melainkan pengikat naratif yang memperkuat lore bahwa setiap kasus saling berkaitan dalam sebuah pertarungan kosmis yang lebih besar.

Namun, kompleksitas ini juga menjadi pisau bermata dua. Bagi penonton yang tidak mengikuti keseluruhan rangkaian film, beberapa momen mungkin terasa kurang berdampak. Film ini jelas dibuat dengan audiens fanbase dalam pikiran, merangkai sebuah final memuaskan bagi mereka yang telah mengikuti perjalanan ini dari awal.

Secara horor, The Last Rite mungkin tidak akan menciptakan teror baru atau formula yang lebih inovatif dibanding pendahulunya. Adegan eksorsisme tetap mengikuti template klasik, meski dijalankan dengan intensitas dan skala produksi yang tinggi. Elemen menakutkan masih mengandalkan bayangan, bisikan, dan distorsi fisik yang sudah familiar.

Sumber: Google (ComicBook.com)

Namun, di luar elemen horornya, film ini berhasil sebagai drama tentang iman dan pengorbanan. Adegan klimaks, ketika Lorraine harus memilih antara keselamatannya sendiri atau menyelamatkan orang lain, disajikan dengan tekanan emosional yang kuat. Film ini menutup trilogi dengan menegaskan bahwa senjata terkuat melawan kegelapan bukanlah ritual, melainkan keberanian untuk berkorban dan ikatan cinta yang tak tergoyahkan.

The Conjuring: The Last Rite adalah sebuah final chapter yang emosional dan memuaskan secara naratif bagi para penggemar setia. Film ini berhasil mengangkat bobot dengan mendalami sisi psikologis karakter utamanya dan menghubungkan titik-titik cerita sebelumnya menjadi satu kesatuan yang koheren.

Bagi penikmat horor yang mencari teror segar dan inovatif, film ini mungkin terasa seperti mengulang formula. Tetapi bagi mereka yang menganggap Ed dan Lorraine Warren sebagai karakter yang dicintai, The Last Rite adalah perjalanan penutup yang layak, sebuah pertarungan final yang tidak hanya menguji nyawa, tetapi juga jiwa.

Kelebihan Film:

  1. Kedalaman karakter Lorraine Warren dengan eksplorasi trauma masa lalu yang mendalam.
  2. Chemistry alami antara Patrick Wilson dan Vera Farmiga sebagai pasangan Warren.
  3. Nilai produksi tinggi dengan recreasi era 1980-an yang autentik dan detail.
  4. Koneksi naratif yang memuaskan untuk penggemar setia waralaba The Conjuring.
  5. Adegan klimaks yang emosional dengan tekanan drama yang kuat.
  6. Penampilan aktor pendukung yang solid, khususnya Julian Hilliard.

Kelemahan Film:

  1. Formula horor yang terasa usang dengan jumpscare yang dapat diprediksi.
  2. Pengembangan antagonis yang dangkal tanpa motivasi atau latar belakang yang jelas.
  3. Pacing tidak konsisten – lambat di awal dan terburu-buru menuju akhir.
  4. Ketergantungan pada film sebelumnya sehingga kurang ramah untuk penonton baru.
  5. Kurang inovasi dalam elemen horor dibanding dua film pertama.
  6. Plot yang terlalu ambisius dengan terlalu banyak elemen yang ingin disampaikan.

Editor: Najwa Rahmadani

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *