( sumber : dokumen pribadi )
Purwokerto—Warga Desa Serang, Kecamatan Karangreja, kembali menggelar tradisi tahunan pengambilan air suci Tuk Sikopyah pada Bulan Sura. Ritual ini menjadi salah satu warisan budaya yang terus dilestarikan masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Slamet.
Prosesi dimulai dengan doa bersama yang dipimpin para tokoh adat. Setelah itu, warga berjalan sekitar satu kilometer menuju mata air sambil membawa lodong bambu sebagai wadah air suci.
Kepala Desa Serang menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan peninggalan leluhur yang sarat makna. Menurutnya, pengambilan air dari Tuk Sikopyah tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga kelestarian sumber mata air di kawasan lereng Gunung Slamet.
Selain prosesi pengambilan air suci, warga juga menggelar kirab budaya menuju pusat desa. Air dari Tuk Sikopyah kemudian digunakan dalam rangkaian Festival Gunung Slamet yang menampilkan gunungan hasil bumi dan berbagai pertunjukan seni.
Nama Tuk Sikopyah berasal dari kisah turun-temurun tentang seorang tokoh agama, Haji Mustofa. Dikisahkan bahwa saat melakukan semedi di mata air tersebut, kopyah atau peci yang dikenakannya tertinggal dan hilang di lokasi tersebut. Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal sebagai Tuk Sikopyah.
Melalui tradisi yang digelar setiap Bulan Sura, masyarakat berharap hubungan antara manusia, alam, dan budaya lokal di lereng Gunung Slamet tetap terjaga dan harmonis
Editor: Nur Alysa Qotrunnada
