
Purwokerto – Tradisi berburu hidangan berbuka puasa atau yang populer disebut “war takjil” kembali menjadi pemandangan yang khas selama bulan Ramadan. Di Desa Karanggedang, Kecamatan Sokaraja, tradisi ini menjadi salah satu kegiatan yang paling ramai setiap sore menjelang waktu berbuka. Kegiatan ini diikuti masyarakat dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
“War takjil” merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan ramainya suasana saat warga membeli makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Berbagai jenis takjil dijajakan pedagang, seperti kolak, aneka gorengan, es buah, puding, hingga minuman segar. Aktivitas jual beli umumnya dimulai sejak pukul 16.00 WIB dan mencapai puncaknya sebelum azan Magrib.
Selain untuk memenuhi kebutuhan berbuka, masyarakat memanfaatkan momen tersebut sebagai kegiatan ngabuburit atau mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Salah satu warga, Warni, mengaku selalu menantikan momen berburu takjil setiap Ramadan. Ia menilai kegiatan tersebut bukan sekadar membeli makanan, tetapi juga menjadi hiburan sore yang menyenangkan.
“Menurut saya seru karena suasananya ramai. Bisa sekalian jalan-jalan sore dan pilih takjil favorit sebelum berbuka,” ujarnya.
Menariknya, fenomena “war takjil” tidak hanya diikuti oleh warga Muslim. Sejumlah warga non-Muslim juga turut meramaikan suasana dengan membeli aneka makanan, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun sebagai bentuk dukungan terhadap pedagang lokal. Kegiatan tersebut mencerminkan nilai toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di tengah masyarakat.
Meningkatnya aktivitas jual beli takjil memberikan dampak positif bagi pedagang. Ramadan memberikan keuntungan bagi para pedagang, baik yang bersifat musiman maupun yang telah lama berjualan. Tingginya minat masyarakat terhadap menu berbuka turut mendorong pedagang menghadirkan variasi makanan yang semakin beragam dari tahun ke tahun.
Meski demikian, kepadatan pembeli di beberapa lokasi berpotensi menyebabkan perlambatan arus lalu lintas. Warga diimbau untuk tetap menjaga ketertiban, mematuhi aturan parkir, serta mengutamakan keselamatan saat berada di area penjualan.
Fenomena “war takjil” memperlihatkan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah, tetapi juga menghadirkan ruang interaksi lintas usia dan lintas agama yang memperkuat nilai toleransi, solidaritas, serta kebersamaan warga setiap sore selama bulan suci.
Editor: Indriani Nurul Istiqomah
