Ramadan di Tanah Rantau: Realitas Mahasiswa Jauh dari Keluarga

Purwokerto — Bulan Ramadan identik dengan kebersamaan keluarga. Namun bagi sebagian mahasiswa perantau di kota pendidikan seperti Purwokerto, puasa justru dijalani jauh dari rumah dan kebiasaan yang selama ini menemani.

Mahasiswa yang menempuh studi di luar daerah harus beradaptasi dengan banyak hal selama Ramadan. Mereka menyiapkan sahur sendiri, mengatur waktu ibadah tanpa pengingat orang tua secara langsung, hingga menyesuaikan pengeluaran agar kebutuhan selama satu bulan tetap tercukupi.

Momen sahur menjadi waktu yang paling terasa perbedaannya. “Biasanya ada orang tua yang membangunkan. Sekarang di kos harus bangun sendiri, kadang takut kesiangan,” ujar Rara, mahasiswa semester dua Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang baru pertama kali menjalani Ramadan di perantauan.

Selain itu, keterbatasan biaya membuat mahasiswa lebih selektif dalam membeli makanan berbuka. Banyak mahasiswa memilih menu sederhana atau memasak sendiri agar uang bulanan tetap cukup hingga akhir Ramadan.

“Kalau di rumah tinggal makan. Di sini harus ngatur uang juga, jadi sering masak sendiri atau beli yang sederhana saja,” katanya.

Secara psikologis, tinggal jauh dari keluarga dapat memunculkan rasa rindu atau homesickness. Sejumlah penelitian mengenai mahasiswa perantau menunjukkan bahwa momen hari besar keagamaan sering memperkuat perasaan tersebut karena biasanya identik dengan kebersamaan keluarga.

Meski demikian, Ramadan di perantauan juga melatih kemandirian. Mahasiswa belajar mengatur waktu bangun sahur, menjaga ibadah secara mandiri, serta mengelola keuangan tanpa bergantung pada keluarga.

“Sekarang paling cuma bisa telepon atau video call sama keluarga pas sahur atau mau buka puasa. Ya walaupun berat, tapi jadi bisa belajar lebih mandiri dan tetap menghargai keluarga di rumah,” tambahnya.

Bagi mahasiswa perantau, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Jauh dari rumah, bulan puasa menjadi proses pendewasaan, mengajarkan kesabaran, tanggung jawab, serta membuat mereka memahami arti kehadiran keluarga yang selama ini terasa biasa namun ternyata sangat bermakna.

Editor: Shafaa Veda Artes Tiarni

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *